Alexandr Wang, mantan pendiri Scale AI yang kini menjabat sebagai Chief AI Officer di Meta Platforms, memicu perdebatan sengit setelah secara terbuka mendorong generasi muda untuk menghabiskan waktu mereka mempelajari vibe-coding.
Tren baru ini merujuk pada gaya pemrograman modern di mana seseorang tidak lagi menulis baris kode secara manual dari nol, melainkan mengarahkan kecerdasan buatan (AI) menggunakan bahasa sehari-hari untuk membangun sebuah perangkat lunak.
Wang, yang memiliki kekayaan bersih sekitar USD 3,2 miliar hingga USD 3,6 miliar (setara Rp50 triliun hingga Rp56 triliun), menilai bahwa kemampuan mengarahkan “vibe” atau intuisi konseptual serta komunikasi yang efektif dengan AI akan jauh lebih berharga di masa depan daripada menghafal sintaksis pemrograman tradisional yang kaku.
Pernyataan visioner sekaligus kontroversial dari pengusaha berusia 28 tahun ini langsung memantik reaksi keras dari berbagai kalangan pendidik dan pakar perangkat lunak senior.
Sebagian pihak sepakat dengan Wang dan menganggap vibe-coding sebagai demokratisasi teknologi yang memungkinkan jutaan remaja kreatif tanpa latar belakang ilmu komputer untuk menciptakan aplikasi canggih dalam hitungan jam.
Namun, gelombang kritik juga datang dari para pengamat yang mengkhawatirkan hilangnya pemahaman fundamental mengenai logika komputer, yang berisiko menciptakan generasi programmer instan yang tidak mampu mengatasi gangguan sistem (bug) kompleks atau memahami celah keamanan siber.
Bagi komunitas jurnalis investigasi, fenomena yang digelorakan oleh mantan bos raksasa infrastruktur data senilai USD 29 miliar ini membuka tabir spekulasi yang lebih besar mengenai monopoli teknologi global.
Di balik narasi kemudahan yang ditawarkan, manuver Wang erat kaitannya dengan pergeseran peta kekuatan teknologi setelah Meta Platforms membeli 49% saham Scale AI seharga USD 14,3 miliar, sebuah langkah strategis yang mengintegrasikan ekosistem talenta ke dalam proyek Superintelligence Labs milik Mark Zuckerberg.
Investigasi lebih lanjut sangat diperlukan untuk menelisik apakah tren ini murni evolusi teknologi demi masa depan generasi muda, ataukah bagian dari strategi korporasi besar untuk mengunci ketergantungan talenta global sejak usia dini pada infrastruktur kecerdasan buatan komersial mereka.













