Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Ketergantungan Dolar Dikurangi, Pemerintah Genjot Penjualan Surat Utang ke Pasar China

45
×

Ketergantungan Dolar Dikurangi, Pemerintah Genjot Penjualan Surat Utang ke Pasar China

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, Forum Jurnalis Investigasi.com – Pemerintah Indonesia mulai agresif menggeser kiblat pembiayaan luar negeri guna mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mendesak Kementerian Keuangan untuk memaksimalkan potensi Panda Bond—surat utang berdenominasi yuan—sebagai pintu masuk utama investasi global sekaligus instrumen diversifikasi instrumen pembiayaan negara.

Langkah ini diambil menyusul tingginya kepercayaan investor Tiongkok terhadap stabilitas fiskal Indonesia. Lembaga pemeringkat kredit terkemuka di China, Lianhe Credit Rating, menyematkan peringkat tertinggi, yakni AAA (Triple A), untuk surat utang RI tersebut.

“Kita melihat peluang besar dari Panda Bond. Dengan rating Triple A yang mereka berikan, kita harus mampu menarik volume yang jauh lebih besar,” ujar Airlangga saat memberikan keterangan di Hall Utama Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Airlangga membeberkan tiga modal kuat Indonesia untuk memperdalam penetrasi di pasar keuangan Tiongkok. Pertama, kepemilikan peringkat kredit AAA.

Kedua, nilai perdagangan bilateral RI-China yang telah menembus angka US$150 miliar. Ketiga, adanya kesepakatan swap mata uang bilateral (Bilateral Swap Arrangement) senilai US$50 miliar.

“Ini adalah momentum krusial bagi kita untuk melakukan diversifikasi pinjaman secara masif,” tegas Airlangga.

Tidak hanya membidik pasar Tiongkok, Airlangga mengisyaratkan bahwa pemerintah juga tengah melirik potensi penerbitan Samurai Bond—surat utang berdenominasi yen Jepang—untuk memperluas basis investor dan memperbanyak pilihan aliran dana non-dolar.

Berdasarkan data resmi, pemerintah Indonesia sebelumnya telah menerbitkan Panda Bond pada 23 Juli 2026 dengan perolehan dana mencapai 7 miliar yuan atau setara dengan US$1,033 miliar (Rp18,4 triliun dengan asumsi kurs Rp17.890 per dolar AS).

Respons pasar Tiongkok terbukti sangat agresif. Total penawaran (order book) yang masuk dari para investor menyentuh angka 17 miliar yuan, atau terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 2,4 kali lipat dari target awal yang ditawarkan.

Secara rinci, transaksi Panda Bond tersebut terbagi ke dalam dua seri. Seri pertama memiliki tenor 3 tahun senilai 5,6 miliar yuan dengan tingkat kupon 1,90%.

Sementara seri kedua memiliki tenor 5 tahun senilai 1,4 milar yuan dengan kupon 2,19%. Seluruh proses setelmen transaksi dijadwalkan rampung pada 30 Juli 2026.

Secara terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa seluruh dana segar hasil penerbitan surat utang di pasar Tiongkok ini akan dialokasikan secara khusus untuk menambal defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *