JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus mengalami tekanan berat pada perdagangan hari ini, Selasa, 3 November 2026.
Mata uang Garuda kini tertahan di kisaran Rp18.156 per dolar AS. Angka ini kian mendekati batas psikologis baru dan mendekati rekor terendah dalam 52 minggu terakhir.
Pelemahan ini terjadi di saat performa ekonomi domestik sebenarnya mencatatkan hasil positif. Namun, sentimen tersebut gagal menyelamatkan rupiah dari gempuran sentimen eksternal.
Berdasarkan investigasi data pasar valuta asing, pelemahan hari ini dipicu oleh dua faktor utama yang terjadi secara simultan. Faktor pertama adalah tingginya permintaan valuta asing (valas) oleh korporasi dalam negeri pada awal bulan.
Perusahaan-perusahaan besar membutuhkan pasokan dolar AS dalam jumlah masif. Pasokan itu digunakan untuk membayar kegiatan impor, cicilan utang luar negeri, hingga repatriasi keuntungan.
Faktor kedua datang dari luar negeri, yakni gelombang ketidakpastian politik di Amerika Serikat. Para pelaku pasar global memilih mengamankan aset mereka ke mata uang dolar menjelang Pemilu Paruh Waktu AS.
Langkah wait and see para investor global memperparah pelarian modal asing dari pasar keuangan Indonesia. Sepanjang tahun 2026 ini saja, aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar saham domestik telah menembus angka fantastis Rp97,9 triliun.
Ekonom menilai, intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan pasar sekunder SBN masih menahan rupiah agar tidak jatuh lebih dalam. Namun, ruang gerak rupiah diproyeksikan akan tetap terbatas di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.250 per dolar AS dalam beberapa pekan ke depan.













