JAKARTA — Laju pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih belum mampu keluar dari zona tekanan berat pada hari ini, Minggu, 8 November 2026.
Menutup perdagangan akhir pekan, mata uang Garuda masih tertahan di kisaran level Rp18.089 per dolar AS pada pasar spot global.
Posisi ini merefleksikan akumulasi pelemahan setelah rupiah gagal mempertahankan momentum penguatan berkala yang sempat diraih pada pertengahan pekan lalu.
Investigasi data transaksi perbankan luar negeri menunjukkan bahwa pergerakan hari ini didominasi oleh evaluasi para pengelola dana global terhadap kondisi makroekonomi domestik.
Sentimen utama bersumber dari kekhawatiran pelaku pasar atas pembengkakan alokasi subsidi energi APBN yang melompat hingga Rp500 triliun akibat lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP).
Kondisi fiskal dalam negeri yang menegang ini membuat respons investor asing cenderung defensif, memicu penahanan aliran modal masuk ke instrumen portofolio nasional.
Sementara itu, dari eksternal, pasar keuangan internasional masih mencerna dampak akhir dari Pemilu Paruh Waktu AS yang memberikan napas bagi pelemahan indeks dolar global ke level 101,56.
Namun, pelonggaran tekanan greenback tersebut dinilai belum cukup kuat untuk memicu pembalikan arah (rebound) rupiah secara agresif karena tertahan oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang tetap solid.
Sepanjang tahun berjalan hingga pekan pertama November 2026, nilai tukar rupiah tercatat telah terdepresiasi sebesar 1.318 poin atau sekitar 7,86% dari basis awal tahun.
Para analis pasar uang memproyeksikan pembukaan perdagangan awal pekan besok akan menempatkan rupiah dalam koridor fluktuatif pada rentang penopang Rp18.080 hingga Rp18.140 per dolar AS.
Keywords Berita: kurs rupiah hari ini, nilai tukar rupiah 8 november, rupiah per dolar as, beban subsidi apbn, dampak pemilu sela as, forum jurnalis investigasi













