JAKARTA — Pasar komoditas logam mulia menutup lembaran akhir bulan ini dengan pergerakan yang cenderung defensif dan stagnan. Berdasarkan pantauan resmi pada Sabtu pagi, harga emas batangan bersertifikat Antam tertahan di level Rp2.546.000 per gram.
Posisi penutupan ini mengunci akumulasi penurunan setelah pada hari sebelumnya sempat tergerus tipis sebesar Rp13.000 per gram. Pelemahan ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar keuangan global sepanjang bulan Oktober 2026.
Sementara itu, kesenjangan atau spread antara harga jual dan harga beli kembali (buyback) tercatat cukup tebal. Pagi ini, harga buyback emas Antam berada di level Rp2.341.000 per gram, menyisakan selisih margin sebesar Rp205.000 per gram.
Di jaringan pasar ritel lainnya seperti Pegadaian, harga perdagangan terpantau mengalami penyesuaian yang bervariasi. Emas Antam cetakan 1 gram di Pegadaian dilepas pada harga Rp2.585.000, sedangkan emas UBS berada di level Rp2.501.000 per gram.
Tim investigator finansial menilai, tren melandainya harga emas domestik ini tidak lepas dari hantaman badai ekonomi makro di Amerika Serikat. Rilis data pertumbuhan ekonomi AS Kuartal III-2026 yang melonjak hingga 3,4% menjadi pukulan telak bagi aset safe haven.
Kondisi tersebut diperparah oleh sikap garang Bank Sentral AS (The Fed). Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) inti AS yang bertahan di level 3,1% membuat ruang pemotongan suku bunga acuan kian menyempit.
Suku bunga tinggi yang bertahan lama (higher-for-longer) secara otomatis mengerek keperkasaan indeks dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS. Dampaknya, daya tarik emas global yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding) menjadi merosot tajam.
Secara global, harga emas spot bahkan sempat jatuh ke level terendah dalam setahun terakhir di bawah level psikologis. Kontrak berjangka komoditas ini mencatatkan penurunan bulanan berturut-turut dengan koreksi sekitar 5,9% sepanjang Oktober.
Para analis independen mengingatkan investor domestik untuk mewaspadai risiko jangka pendek ini. Dengan spread harga fisik yang tebal di dalam negeri, instrumen komoditas ini dinilai hanya aman untuk strategi mitigasi inflasi jangka panjang.
Kini, fokus para pelaku pasar tertuju pada spekulasi kebijakan moneter global di awal November besok. Jika tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, eskalasi tersebut bisa menjadi satu-satunya bahan bakar bagi emas untuk melakukan rebound.













