Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Menggantung Lemah di Level Rp18.022

50
×

Rupiah Menggantung Lemah di Level Rp18.022

Sebarkan artikel ini

FORUM JURNALIS INVESTIGASI — Pasar valuta asing domestik membuka perdagangan Kamis pagi, 22 Oktober 2026 dengan ketegangan tinggi.

Mata uang rupiah Indonesia terpantau masih terjebak di zona merah yang sangat rentan, bertengger di kisaran psikologis Rp18.022 per dolar AS setelah gagal memanfaatkan momentum penguatan jangka pendek.

Para spekulan dan fund manajer tampak bergeming pasca-pengumuman krusial otoritas moneter kemarin.

Langkah defensif yang diambil bank sentral dinilai pasar belum cukup kuat untuk memotong rantai kepanikan modal akibat goncangan di sektor pasar modal.

Efek Hasil RDG Bank Indonesia

BI-Rate Tertahan: Dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Oktober 2026, Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Siasat Lapis Dua: Sebagai ganti menaikkan bunga utama, BI mengerek suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen demi mengamankan likuiditas jangka pendek perbankan.

Dilema Pertumbuhan: Langkah konservatif ini diambil demi menjaga sektor riil agar tidak tercekik biaya kredit, meski risikonya membuat rupiah terus loyo dihantam dolar AS.

MSCI dan Prahara Bursa Saham

Sentimen Standalone Market: Retakan pada nilai tukar diperparah oleh kepanikan investor setelah MSCI melontarkan wacana menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market.

Melonjaknya Risiko Negara: Data Bloomberg mencatat indikator risiko investasi (Credit Default Swap/CDS) Indonesia tenor 5 tahun melonjak tajam ke level 99,73 bps, mencerminkan kekhawatiran besar investor global.

Eksodus Modal Asing: Aksi bersih-bersih portofolio asing pasca-jatuhnya denda triliunan OJK terhadap puluhan emiten memicu arus keluar modal (capital outflow) senyap yang menguras pasokan dolar di pasar spot.

Proyeksi dan Rentang Fluktuasi Hari Ini

Batas Pertahanan Ketat: Pengamat ekonomi makro dari Universitas Airlangga memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif di rentang sempit antara Rp17.950 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Intervensi Berlapis: BI dipastikan memaksimalkan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan intervensi fisik di pasar valas spot untuk menahan agar rupiah tidak terseret ke skenario terburuk kuartal akhir.

Faktor ‘Higher for Longer’: Masih kuatnya rilis indikator ekonomi Amerika Serikat memaksa The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama, yang secara otomatis terus menyedot likuiditas keluar dari emerging markets seperti Indonesia.

Bagi rekan-rekan jurnalis investigasi yang mendalami sektor stabilitas moneter, celah kebijakan mana yang krusial untuk kita telusuri lebih lanjut?

Ketahanan riil cadangan devisa akibat intervensi berlapis di pasar spot dan DNDF yang terus-menerus dilakukan BI?

Arah pelarian modal (capital outflow) dari pemegang surat utang negara menyusul ditahannya BI-Rate di level 5,75%?

Dampak rembesan kenaikan harga bahan baku impor terhadap daya bertahan industri manufaktur domestik pekan ini?

Mari kita pertajam investigasi ekonomi makro ini demi akuntabilitas publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *