SANA’A — Di balik presisi rudal balistik dan drone bunuh diri kelompok Houthi, terdapat jaringan logistik global yang rumit. Komponen mematikan ini tidak terbang langsung dari Teheran, melainkan menyusup lewat jalur-jalur gelap yang melibatkan manipulasi dokumen perdagangan sipil.
Laporan tim panel ahli PBB dan lembaga Conflict Armament Research (CAR) mengungkap bahwa Iran menggunakan strategi hibrida. Mereka memanfaatkan rantai pasok komersial legal untuk menyamarkan komponen militer.
Lebih dari 80 persen komponen elektronik dalam pesawat nirawak Houthi, seperti modul navigasi dan mesin penggerak, dibeli dari pasar terbuka di Asia. Perusahaan cangkang yang berbasis di luar negeri membelinya sebagai barang kebutuhan sipil sebelum menyelundupkannya ke Yaman.
Jalur laut menjadi urat nadi utama penyelundupan ini. Pasukan Khusus Quds dari Garda Revolusi Iran (IRGC) memindahkan komponen tersebut ke kapal kayu tradisional (dhow) di lepas pantai Oman atau Somalia.
Kapal-kapal tanpa bendera ini kerap mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) mereka untuk menghindari patroli Angkatan Laut internasional. Mereka merapat di pelabuhan kecil yang dikuasai Houthi sepanjang pesisir Laut Merah.
Jalur darat pun tak kalah aktif. Komponen yang lebih kecil diselundupkan melintasi perbatasan darat yang longgar di wilayah timur Yaman dengan menyembunyikannya di dalam truk kargo makanan.
Merespons hal ini, Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa telah menjatuhkan sanksi berlapis. Sanksi pembekuan aset dan larangan perjalanan menyasar jaringan keuangan Houthi di Dubai, Istanbul, dan Moskow.
Namun, sanksi internasional ini dinilai mandul di lapangan. Jaringan keuangan Houthi sangat adaptif, mereka dengan cepat menutup perusahaan lama dan membuka entitas baru dalam hitungan hari.
Selama pasar gelap internasional masih terbuka dan pengawasan maritim di Teluk Aden memiliki celah, pasokan senjata untuk Houthi akan terus mengalir. Perang teknologi di Yaman tampaknya masih jauh dari kata usai.













