Example 728x250
Opini

Jemari yang Menyelamatkan: Menjaga Jempol dari Badai Hoaks Akhir Zaman

113
×

Jemari yang Menyelamatkan: Menjaga Jempol dari Badai Hoaks Akhir Zaman

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

ANDROID di genggaman tangan dingin Wahyu (bukan nama sebenarnya) bergetar pendek. Sebuah notifikasi masuk di grup percakapan keluarga.

Isinya berupa video berdurasi singkat yang mengeklaim adanya penipuan massal berselimut kedok bantuan sosial keagamaan di wilayahnya. Di bawah video, tertera kalimat tebal dengan nada mendesak:

Sebarkan demi keselamatan umat! Jangan berhenti di Anda!”

Tanpa berpikir panjang, didorong oleh rasa solider yang membumbung, jempol Wahyu bergerak cepat. Hanya butuh tiga kali ketukan layar, video tersebut sukses mendarat di lima grup WhatsApp lainnya.

Wahyu, merasa lega. Ia merasa baru saja melakukan sebuah “amal saleh” dengan memperingatkan saudara-saudaranya.

Namun, rasa lega itu berubah menjadi sesak hanya dalam hitungan jam. Menjelang petang, sebuah rilis resmi dari pihak berwenang menyatakan bahwa video tersebut adalah hoaks lama.

Video itu sengaja dipotong dan diedit oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk memicu kepanikan.

Wahyu tertegun. Ia lesu menatap layar ponselnya. Di ruang siber yang maha luas, video yang ia ikut sebarkan kini telah ditonton dan dibagikan ulang oleh ratusan.

Bahkan, mungkin ribuan orang lainnya. Sebuah penyesalan terlambat datang. Jempol yang ia kira sedang mengukir pahala, ternyata baru saja menjadi mesin pengganda fitnah.

Paradoks Kecepatan & Hilangnya Tabayyun

Tragedi jempol Wahyu adalah potret jamak masyarakat digital hari ini. Di era jurnalisme instan, batasan antara penyebar informasi dan konsumen berita kian kabur.

Semua orang yang memegang gawai kini bisa menjadi “penerbit” beritanya sendiri. Sangat berbeda di era saya, 80-an. Era media cetak, tentu saja, semua aktivitas masih ditopang mesik ketik. Saat ini, di era “Akhir Zaman” ini, kecepatan adalah dewa.

Celakanya, kecepatan sering kali mengalahkan ketepatan. Demi mengekah predikat “yang pertama tahu”, prinsip kehati-hatian kerap dikesampingkan.

Informasi tidak lagi disaring sebelum disebarluaskan. Langsung ditelan bulat-bulat. Apalagi jika narasi yang diusung membawa-bawa embel-embel agama atau sentimen emosional.

Padahal, empat belas abad silam, seperti selalu saya sampaikan dalam pelatihan jurnalistik dan di buku-buku yang saya tulis, Al-Qur’an telah memberikan rambu-rambu yang sangat tegas mengenai fenomena ini. Dalam Surah Al-Hujrat ayat 6:

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat ini adalah fondasi epistemologi jurnalisme Islam. Islam tidak melarang umatnya menerima informasi. Namun Islam mewajibkan adanya sistem penyaringan yang ketat (check and recheck).

Dalam konteks siber, tabayyun bukan lagi sekadar anjuran etis, melainkan kewajiban syar’i yang membentengi masyarakat dari jurang perpecahan.

Dari Ghibah Digital Hingga Dosa Jariah

Banyak dari kita yang sangat berhati-hati menjaga lisan dari bergunjing (ghibah) secara tatap muka. Namun, benteng pertahanan itu sering kali runtuh ketika berhadapan dengan papan tik virtual.

Mengetik komentar buruk, menyebarkan aib rumah tangga tokoh masyarakat yang sedang viral, atau meneruskan rumor yang belum pasti kebenarannya, dianggap sebagai hal biasa karena “semua orang juga melakukannya”.

Fikih informasi mengingatkan kita bahwa dosa lisan kini telah bermutasi menjadi dosa jemari. Jika di dunia nyata kata-kata kita hanya didengar oleh segelintir orang.

Tetapi, di dunia digital, satu kali ketukan “Share” pada berita bohong atau fitnah bisa menciptakan efek domino yang abadi.

Itulah yang disebut sebagai dosa jariah—dosa yang terus mengalir dan berlipat ganda bahkan ketika sang pelakunya sudah tertidur di dalam kubur.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi pernah mengingatkan, “Ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan.” 

Dalam lanskap media modern, ketergesa-gesaan dalam membagikan berita tanpa verifikasi adalah pintu masuk terbesar bagi setan untuk mengadu domba umat.

Gawai Sebagai Benteng Dakwah

Menghadapi tsunami informasi ini, jurnalis muslim dan setiap pemegang gawai dituntut untuk mengubah arah jemarinya.

Gawai yang ada di tangan jangan lagi dibiarkan menjadi alat konsumen pasif yang mudah diombang-ambingkan oleh algoritma hoaks. harus naik kelas menjadi benteng pertahanan dakwah.

Caranya? Memulai dengan mempraktikkan tiga langkah sederhana yang Qur’ani:

Saring Sebelum Sharing:
Saat menerima berita yang bombastis atau memancing emosi, tahan jempol Anda selama minimal 5 menit. Gunakan waktu tersebut untuk memeriksa keabsahan sumbernya.

Gunakan Bahasa yang Menyejukkan (Qaulan Layyina):
Jika ingin meluruskan sebuah hoaks di kolom komentar, gunakan bahasa yang santun, berbasis data, dan tidak merendahkan pihak lain.

Prinsip Kemaslahatan:
Sebelum membagikan sebuah informasi, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah informasi ini membawa manfaat bagi umat, atau justru memicu kegaduhan baru?” Jika tidak bermanfaat, meskipun informasi itu benar, menyimpannya rapat-rapat jauh lebih mulia.

Jemari kita hari ini mungkin bergerak bebas tanpa suara di atas layar kaca yang mulus. Namun kelak, di hari saat mulut dikunci, jemari inilah yang akan berbicara dan menjadi saksi. Di hadapan Mahkamah Ilahi. Kesaksian atas setiap karakter huruf dan tautan berita yang pernah kita kirimkan ke dunia.

Mari jaga jempol kita, demi keselamatan dunia dan akhirat.

———————

Drs. Wahyudi El Panggabean,M.H.,MT. BNSP.,C.PCT:
Wartawan Senior, Direktur Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center, Instruktur Jurnalis, Penulis Buku Buku Jurnalistik, Master Trainer dari BNSP dan Anggota Dewan Kehormatan PERADI Pekanbaru.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *