Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Ngamuk, Tekuk Dolar AS Keluar dari Level Psikologis Rp18.000

35
×

Rupiah Ngamuk, Tekuk Dolar AS Keluar dari Level Psikologis Rp18.000

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Nilai tukar rupiah mengamuk dan sukses menekuk balik dolar Amerika Serikat (AS) hingga keluar dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Apresiasi tajam mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi rilis data makroekonomi AS yang mendingin serta langkah intervensi taktis Bank Indonesia (BI) di pasar domestik maupun internasional.

Berdasarkan data pasar terbaru, rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi konsumen tahunan AS melambat ke angka 3,5%. Kondisi ini diperkuat oleh kejatuhan Indeks Harga Produsen (PPI) AS sebesar 0,3%. Alhasil, pelaku pasar kini berbalik arah dan menurunkan ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

The Fed Melandai, Angin Segar Bagi Emerging Markets

Melandainya data inflasi di Negeri Paman Sam tersebut memberikan dampak instan pada kejatuhan indeks dolar AS (DXY) secara global. Bagi pasar keuangan Indonesia, pelonggaran tekanan dari AS ini menjadi momentum krusial yang meminimalkan risiko pelarian modal asing (capital outflow).

“Data inflasi dan PPI AS yang lebih rendah dari perkiraan menjadi konfirmasi kuat bagi pasar bahwa The Fed tidak lagi memiliki alasan untuk bersikap agresif. Tekanan jual dolar global ini langsung dimanfaatkan sebagai angin segar bagi kebangkitan mata uang negara berkembang, khususnya rupiah,” ujar seorang analis pasar valuta asing di Jakarta, Jumat (17/7/2026).

BI Masuk Pasar Offshore 24 Jam Jadi Benteng Pertahanan

Di samping faktor eksternal, otot kuat rupiah tidak lepas dari kebijakan pro-pasar yang diambil oleh Bank Indonesia selaku otoritas moneter domestik. BI bertindak agresif dengan melakukan intervensi sebagai jangkar stabilitas mata uang.

Langkah strategis ini dikonfirmasi langsung oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. Ia menegaskan bahwa BI kini menerapkan terobosan baru untuk memantau pergerakan pasar secara real-time demi membentengi rupiah.

“Sejak April, terobosan BI masuk di pasar NDF (Non-Deliverable Forward) 24 jam 6 hari. Kami menggunakan kantor wilayah di luar untuk masuk memonitor NDF,” tegas Destry Damayanti dalam sebuah forum investasi di Jakarta.

Destry menambahkan bahwa operasi stabilisasi moneter ini dijalankan lewat bantuan kantor perwakilan BI di pusat-pusat keuangan dunia. “BI masuk ke pasar NDF dengan bantuan kantor perwakilan di luar negeri, termasuk Singapura, Hong Kong, dan New York. Dalam rangka stabilisasi moneter, bisa jual NDF, tidak boleh beli,” tambahnya.

Langkah berani BI yang memperluas instrumen operasi moneter valas lewat transaksi spot dan swap valuta asing ini terbukti ampuh memulihkan kepercayaan investor dan mengamankan posisi rupiah.

Arah Volatilitas ke Depan

Meski saat ini rupiah berada di atas angin, para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada. Ke depan, pergerakan nilai tukar masih akan dibayangi oleh rilis data inflasi inti AS serta dinamika geopolitik global. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, yang sewaktu-waktu dapat mengembalikan volatilitas di pasar valas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *