Oleh: Wahyudi El Panggabean
Aktor Hollywood Will Smith pernah berujar, “Hal-hal yang paling berharga bagi saya, tidak saya pelajari di sekolah”.
Ungkapan ini seolah menampar wajah institusi pendidikan formal kita. Banyak kalangan bersepakat bahwa sekolah sering kali justru membunuh kreativitas dan menghambat perkembangan bakat alamiah seseorang.
Kritik ini sangat logis. Jika kita menelisik sejarah, sistem pendidikan massal yang kita kenal sekarang lahir pada awal Revolusi Industri. Tujuannya kala itu sangat pragmatis: mempersiapkan massa agar menjadi buruh pabrik yang patuh, disiplin, dan mampu mengerjakan tugas-tugas berulang. Sayangnya, sistem penyeragaman ini terbawa hingga hari ini. Siswa dinilai dari angka, dipaksa menghafal, dan kotak pemikirannya diseragamkan, yang pada akhirnya mematikan daya kritis dan kreativitas individu.
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, penyeragaman sistem klasikal adalah sebuah blunder. Psikolog perkembangan mengakui bahwa setiap individu terlahir dengan keunikan kapasitas kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berbeda-beda.
Teori Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) menegaskan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya diukur dari kemampuan logika dan bahasa. Ada anak yang cerdas secara visual-spasial, kinestetik, musikal, hingga naturalis. Sistem pendidikan yang memaksakan semua anak menguasai satu standar mata pelajaran yang sama secara neurosains dapat menghambat pembentukan identitas dan membunuh motivasi intrinsik anak.
Lantas, bagaimana Islam memandang pendidikan? Al-Qur’an dan Hadis telah meletakkan landasan komprehensif jauh sebelum psikolog modern menemukan teori-teori mereka. Konsep pendidikan Islam berfokus pada pembentukan kepribadian yang utuh (insan kamil). Pendidikan tidak sekadar mengejar kognisi, melainkan menumbuhkan iman, amal, dan akhlak.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (QS. Al-Alaq: 1-5) yang memerintahkan manusia untuk “Iqra” (membaca). Membaca dalam tafsir yang lebih luas bermakna mengamati, menganalisis, dan menggali ilmu pengetahuan dengan cara berpikir kritis.
Bahkan, metodologi pengajaran terbaik telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dalam banyak Hadis. Beliau menggunakan pendekatan psikologis yang sangat kontekstual. Nabi ﷺ menyesuaikan materi dan gaya penyampaian berdasarkan kapasitas pemahaman sahabatnya. Dalam salah satu riwayat, Beliau ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.
Esensi “mengajarkan” dalam Islam bukanlah menjejalkan informasi, melainkan membimbing dan menyucikan jiwa (tazkiyatu an-nafs). Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang mampu mengenali potensi fitrah seorang anak dan mengarahkannya untuk menebar manfaat bagi sekitarnya.
Pendidikan bukanlah “menambang” pikiran manusia laksana menggali komoditas bumi secara massal untuk kebutuhan industri. Pendidikan sejati adalah membiarkan bunga mekar dengan keindahannya masing-masing.
Baik ilmu psikologi maupun ajaran Islam menegaskan bahwa proses belajar haruslah menyenangkan, memicu rasa ingin tahu, dan menghargai perbedaan. Sudah saatnya sistem pendidikan kita bergeser dari sekadar pabrik pencetak nilai menuju ekosistem yang merawat imajinasi, mengasah nalar, serta membangun karakter yang tangguh dan kreatif.***













