Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Mulai Menguat di Awal Juni…

25
×

Rupiah Mulai Menguat di Awal Juni…

Sebarkan artikel ini
  • Pada perdagangan hari ini, Senin (1/6/2026), nilai tukar rupiah ditutup menguat 76 poin terhadap dolar AS di tengah sentimen geopolitik global yang masih membayangi pasar keuangan.

Mata uang Garuda berakhir di level Rp17.805 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.880 per dollar AS. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah sempat mencapai 95 poin pada perdagangan hari ini sebelum akhirnya ditutup menguat 76 poin.

Meski demikian, ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (2/6/2026) masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp 17.800-Rp 17.850 per dollar AS.

Pasalnya dari faktor eksternal, pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi gencatan senjata permanen antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan kemajuan berarti.

Meskipun kedua negara dilaporkan membahas perpanjangan gencatan senjata sementara serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, sejumlah isu utama masih belum terselesaikan.

Ketidakpastian tersebut diperparah oleh meningkatnya kekhawatiran mengenai keberadaan ranjau di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.

Kondisi ini dinilai berpotensi memperlambat normalisasi pasokan energi global meskipun jalur pelayaran kembali dibuka.

Di saat yang sama, eskalasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon turut meningkatkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah kembali menguat dan memunculkan kekhawatiran bahwa biaya energi yang tinggi dapat menghambat upaya pengendalian inflasi di Amerika Serikat.

Menurut Ibrahim, perhatian investor kini juga tertuju pada arah kebijakan moneter AS. Ekspektasi pasar yang sebelumnya mengarah pada pemangkasan suku bunga mulai bergeser setelah konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga energi.

“Pelaku pasar saat ini menunggu pidato para pejabat Federal Reserve serta sejumlah data ekonomi AS, terutama indikator pasar tenaga kerja, untuk mencari petunjuk mengenai prospek suku bunga ke depan,” ujar Ibrahim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *