Oleh: Wahyudi El Panggabean
“Tidak masalah seberapa lambatnya Anda berjalan. Yang penting Anda tidak berhenti.”
Ungkapan filosofis dari Konfusius ini sangat relevan sebagai bahan bakar motivasi bagi siapa saja yang terus berjuang, terutama bagi para kaum lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun.
Dalam perspektif Islam, konsep ini bertransformasi menjadi nilai spiritual yang agung. Kewajiban menimba ilmu laksana gerakan jihad yang tak mengenal garis akhir atau batas usia. Semangat inilah yang terus mengalir di dalam diri saya.
Di usia saya (Wahyudi El Panggabean)_memasuki63 tahun_belajar bukan lagi sekadar formalitas, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial.
Menjalani dua perkuliahan sekaligus—Fakultas Hukum S1 Semester 6 demi linieritas, serta menimba ilmu di program S3 Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) untuk mendalami Jurnalisme Islam—adalah bukti bahwa api semangat belajar saya tidak boleh padam.
Secara biologis, aktivitas belajar tanpa batas terbukti menjadi salah satu kunci untuk memperpanjang usia. Ketika otak terus distimulasi dengan memori baru, pemecahan masalah, dan analisis kritis, neuron-neuron di dalam otak akan terus membentuk koneksi baru (neuroplastisitas).
Proses ini merangsang produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein yang menjaga kesehatan sel saraf dan melindungi otak dari penyakit neurodegeneratif seperti demensia atau Alzheimer.
Aktivitas mental yang intens ini menjaga vitalitas organ tubuh lainnya, membuat seseorang secara fisik dan mental jauh lebih bugar dan berumur panjang dibandingkan mereka yang berhenti mengasah pikiran.
Dari tinjauan psikologis, belajar di usia senja memberikan dampak luar biasa terhadap kesehatan mental dan kebahagiaan.
Seseorang yang memiliki gairah belajar memiliki tujuan hidup yang jelas (ikigai). Hal ini secara psikologis mengurangi kecemasan, mencegah depresi, dan meningkatkan rasa ke-bermakna-an diri.
Proses belajar yang berkelanjutan memicu pelepasan hormon dopamin, yakni zat kimia di otak yang memberikan rasa senang dan motivasi.
Bagi para lansia, perasaan tetap produktif dan berkontribusi secara intelektual akan meningkatkan harga diri dan menjaga vitalitas jiwa.
Lebih dari sekadar manfaat medis maupun psikologis, menuntut ilmu adalah perintah sakral dalam Islam yang berlaku seumur hidup. Rasulullah SAW bersabda:
“Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat” (HR. Al-Baihaqi).
Hadis ini secara tegas mematahkan mitos bahwa pendidikan dibatasi oleh umur.
Selain itu, Allah SWT secara jelas mengagungkan derajat para pencari ilmu sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”
Ayat ini merupakan janji transendental bahwa status penuntut ilmu akan terus diangkat posisinya oleh Allah SWT di dunia maupun di akhirat.
Pada akhirnya, belajar tidak mengenal batas ruang maupun usia. Baik dalam kerangka filosofi Konfusius yang menghargai setiap langkah, maupun dalam ajaran Islam yang menganggapnya sebagai ibadah sepanjang hayat, menuntut ilmu adalah kunci keabadian amal.
Proses ini menumbuhkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa ilmu Allah SWT sangatlah luas. Teruslah bergerak, teruslah membaca, dan jangan pernah berhenti belajar.
Selagi hayat masih dikandung badan, setiap lembaran ilmu baru adalah perpanjangan makna dari kehidupan itu sendiri.***













