Example 728x250
Pendidikan

Ketika Kopi Mendingin dalam Sepi: Jeritan Hati Lansia yang Terasing oleh Layar Ponsel Pasangan

43
×

Ketika Kopi Mendingin dalam Sepi: Jeritan Hati Lansia yang Terasing oleh Layar Ponsel Pasangan

Sebarkan artikel ini

 

Oleh: Wahyudi El Panggabean | Forum Jurnalis Investigasi Com

Di usianya yang ke-96 tahun, aktor legendaris Hollywood Clint Eastwood pernah membagikan sebuah mutiara hikmah mengenai kehidupan lansia.

Menurutnya, ketika Anda mendapati orang tua menceritakan kisah yang sama secara berulang-ulang, jangan pernah melihatnya sebagai sebuah gangguan.

Sebaliknya, pandanglah itu sebagai penanda bahwa mereka masih terhubung dengan peristiwa tersebut, masa di mana diri mereka merasa sangat dihargai.

Kebenaran mutlak dari pernyataan tersebut sejalan dengan realitas bahwa salah satu tantangan terbesar dalam proses menua adalah semakin menyempitnya lingkaran sosial dan perhatian yang diterima.

Secara psikologis, manusia selalu mencari tempat di mana perasaannya dimengerti. Ketika usia senja tiba, kebutuhan untuk didengarkan, dihormati, dan eksistensinya diakui menjadi kebutuhan emosional yang sangat mendasar.

Banyak orang mengira bahwa ketika seseorang telah mencapai kematangan usia dan intelektual—seperti masih aktif menuntut ilmu di bangku kuliah pada usia di atas kepala enam—mereka telah selesai dengan urusan emosional. Ini adalah kekeliruan besar.

Di balik aktivitas otak yang padat dan semangat membaca yang menyala, ada satu ruang di dalam hati yang tidak bisa diisi oleh tumpukan buku atau gelar akademis: yaitu kebutuhan untuk didengarkan oleh pasangan hidup.

Psikologi di Usia Senja

Dari sudut pandang biologi, menua adalah proses penurunan fungsi seluler dan organ tubuh yang bersifat alami. Secara psikologis, fase ini juga menjadi fase krisis identitas baru (psikososial) karena terjadinya masa pensiun yang sering memicu hilangnya peran sosial, hingga timbulnya rasa ketergantungan pada orang lain.

Seringnya para lansia mengulang memori masa lalunya adalah mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kesehatan mentalnya. Ingatan jangka panjang umumnya jauh lebih kuat bertahan, menjadikannya pelabuhan aman di tengah penurunan kognitif.

Menceritakan ulang kisah-kisah kejayaan atau momen penting adalah cara mereka menegaskan identitas: “Saya pernah ada, dan saya pernah berdaya.”

Sinergi Cinta di Usia 60-an

Seiring bertambahnya usia, dunia luar perlahan-laman akan mengecil. Lingkaran pertemanan menyusut, dan interaksi sosial formal mulai berkurang. Di titik inilah, pasangan hidup menjadi satu-satunya benteng pertahanan emosional yang paling utama.

Ketika seorang suami atau istri berbicara, mereka bukan sekadar ingin menyampaikan informasi, melainkan sedang memastikan bahwa diri mereka masih berharga, masih relevan, dan eksistensinya masih diakui oleh belahan jiwanya.

Dari kacamata biologi, penurunan hormon seiring penuaan sering kali menurunkan ambang batas toleransi kita terhadap stres dan rasa sepi. Namun, sistem saraf manusia memiliki keunikan.

Ketika kita didengarkan dengan penuh perhatian oleh orang yang kita mencintai, tubuh memproduksi hormon oksitosin dan dopamin. Hormon-hormon ini bertindak sebagai pereda stres alami, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan imunitas tubuh.

Mendengarkan pasangan di usia senja bukan lagi sekadar bumbu pernikahan, melainkan sebuah kebutuhan biologis untuk menjaga kesehatan jantung dan fungsi otak. Dialog yang hangat antara suami istri di meja makan adalah obat terbaik yang tidak bisa dibeli di apotek mana pun.

Ancaman “Phubbing” di Usia Senja: Ketika Layar Kaca Merampas Kehangatan Meja Makan

Namun di era digital hari ini, tantangan komunikasi dalam pernikahan tidak lagi sekadar jarak fisik, melainkan kehadiran sebuah fenomena modern yang disebut phubbing (phone snubbing).

Istilah ini merujuk pada tindakan mengabaikan lawan bicara demi asyik menatap layar ponsel. Ironisnya, fenomena ini tidak lagi hanya menjangkiti generasi muda, tetapi sudah merambah ke kehidupan rumah tangga para lansia.

Bayangkan sebuah potret sunyi di ruang makan: seorang suami duduk di balik meja kayu, mencoba membagikan ide pemikiran atau keluh kesahnya setelah seharian bergelut dengan tumpukan buku kuliah. Di hadapannya, setengah gelas kopi perlahan mendingin.

Namun, sang istri berdiri membelakanginya, tatapannya terkunci rapat pada layar Android di genggaman, tenggelam dalam riuhnya dunia maya. Di ruang itu ada dua manusia, tetapi komunikasi mereka terputus oleh dinding tak kasatmata bernama teknologi.

Secara psikologis, phubbing di usia senja membawa dampak destruktif yang lebih dalam dibandingkan pada usia muda. Lansia yang diabaikan oleh pasangannya demi ponsel akan merasakan penolakan emosional (emotional rejection) yang akut. Ketika ucapan mereka dibalas dengan gumaman tanpa tatapan mata, muncul perasaan kecewa, merasa tidak lagi menarik, tidak dihargai, dan terasing di rumah sendiri.

Perspektif Islam: Menuju Sakinah

Islam memandang pernikahan di usia tua sebagai fase pematangan menuju konsep Sakinah, Mawaddah, war Rahmah yang paling murni. Di masa muda, pernikahan mungkin banyak diwarnai oleh urusan materi, karier, dan membesarkan anak. Namun di usia senja, inti dari pernikahan adalah Mu’asyarah bil Ma’ruf—saling menemani dan memperlakukan pasangan dengan cara yang paling baik.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, salah satu tujuan diciptakannya pasangan adalah agar kita merasa tenteram di dekatnya (litaskunu ilaiha). Ketenteraman itu terwujud lewat kesediaan untuk saling mendengarkan keluh kesah, ide, bahkan cerita yang mungkin sudah diulang beberapa kali. Islam sangat melarang sikap abai dan tidak menghormati lawan bicara.

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam berkomunikasi; ketika seseorang berbicara kepada beliau, beliau akan memutar seluruh tubuhnya menghadap orang tersebut, memberikan perhatian penuh, dan mendengarkan hingga tuntas.

Mengabaikan pasangan hidup demi linimasa media sosial bukan hanya merusak rajutan sakinah dalam rumah tangga, tetapi juga menjauhkan kita dari keberkahan hubungan yang dicontohkan oleh Nabi.

Ponsel mendekatkan yang jauh, namun jangan sampai ia menjauhkan satu-satunya orang yang paling dekat di sisa usia kita. Bagi seorang istri, mendengarkan suaminya yang sedang berjuang menuntut ilmu adalah bentuk dukungan ibadah yang bernilai pahala besar.

Menua bersama dalam lingkaran ilmu dan ketaatan adalah anugerah terindah. Melalui ruang dengar yang saling terbuka di antara pasangan, usia senja tidak akan pernah terasa sepi, melainkan penuh dengan keberkahan dan kebahagiaan yang hakiki.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *