Example 728x250
Pendidikan

Jurnalisme Tanpa Etika Adalah Mesin Propaganda: Mengapa Kepatuhan KEJ Bagi Wartawan Adalah Harga Mati!

65
×

Jurnalisme Tanpa Etika Adalah Mesin Propaganda: Mengapa Kepatuhan KEJ Bagi Wartawan Adalah Harga Mati!

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean  (Direktur Pekanbaru Journalist Center)

Direktur Utama Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H.,MT.BNSO.,C.PCT, menegaskan, kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) merupakan harga mati bagi setiap wartawan di tengah gempuran tren berita instan dan berburu clickbait saat ini.

Ia memperingatkan bahwa tanpa benteng moral dan penerapan nilai spiritual seperti prinsip tabayyun (verifikasi), profesi mulia pers akan runtuh dan berubah menjadi sekadar mesin propaganda yang menyebarkan kebohongan massal serta merusak tatanan sosial kemasyarakatan.

Saat ini, kecepatan sering kali mengalahkan ketepatan. Banyak media terjebak dalam perlombaan berburu view. Akibatnya, kualitas berita merosot tajam.

Di sinilah Kode Etik Jurnalistik (KEJ) diuji. Bagi seorang wartawan, menaati kode etik bukanlah pilihan. Itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Tanpa etika, pers akan kehilangan ruhnya. Ia hanya akan menjadi mesin propaganda yang menyebarkan fitnah, merusak reputasi, dan mengadu domba masyarakat.

Kepercayaan Publik Adalah Modal Utama

Wartawan memegang kekuasaan besar lewat penanya. Satu berita salah bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sekejap.

Oleh karena itu, kontrol moral sangat mutlak diperlukan. Ketika wartawan mulai menerima suap atau menulis pesanan, ia sedang membunuh profesinya sendiri.

Modal utama jurnalisme adalah kepercayaan publik. Sekali masyarakat tidak percaya, maka fungsi pers sebagai pilar keempat demokrasi akan runtuh.

KEJ hadir sebagai kompas. Aturan ini menjaga agar wartawan tetap berpihak pada kebenaran, bukan pada pemilik modal atau kepentingan politik.

Panduan Islam: Amanah dan Tabayyun

Bagi jurnalis Muslim, profesi ini bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah tanggung jawab moral yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Islam mengajarkan dua prinsip utama dalam berkomunikasi: Amanah (bisa dipercaya) dan Siddiq (jujur). Wartawan wajib menyampaikan apa yang benar, bukan apa yang viral.

Al-Qur’an juga memberikan panduan tegas mengenai disiplin verifikasi berita. Prinsip ini disebut Tabayyun.

Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah melarang kita langsung percaya pada berita yang dibawa oleh orang fasik. Kita diperintahkan untuk meneliti kebenarannya agar tidak mencelakai orang lain karena kecerobohan.

Prinsip tabayyun ini adalah fondasi dari cover both sides. Wartawan wajib mengonfirmasi berita kepada semua pihak yang terlibat secara berimbang sebelum menyebarkannya.

Bahaya Dosa Massal ‘Copy-Paste’

Hari ini kita melihat tren buruk. Banyak wartawan malas turun ke lapangan. Mereka hanya menyalin informasi dari media sosial tanpa verifikasi.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam sebuah hadits: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim).

Wartawan yang malas cek fakta sesungguhnya sedang menyebarkan kebohongan massal. Narasi yang dibuat demi sensasi belaka (tajassus) hanya akan melahirkan kegaduhan.

Itulah mengapa akhlak dan rasa takut kepada Tuhan harus menjadi jangkar seorang jurnalis. Rasa takut inilah yang menahan jari kita untuk tidak menulis kebohongan.

Komitmen Pekanbaru Journalist Center 

Di Lembaga Pendidikan Wartawan PJC, prinsip ini kami pegang teguh. Saya selalu menekankan kepada para siswa bahwa mahir menulis saja tidak cukup.

Menguasai teknik wawancara dan multimedia menjadi sia-sia jika wartawan buta etika. PJC berkomitmen melahirkan jurnalis yang cerdas otak sekaligus kokoh moral.

Menjadi wartawan profesional berarti siap hidup dalam koridor aturan. Jurnalis yang mengawinkan kode etik profesi dengan nilai spiritual akan menghasilkan karya yang mencerahkan.

Kesimpulan

Menaati Kode Etik Jurnalistik adalah harga mati. Di tengah badai hoaks saat ini, integritas adalah pembeda antara wartawan sejati dan provokator.

Mari kembalikan kehormatan pers. Jadikan pena kita sebagai alat penegak keadilan dan pembawa maslahat bagi bangsa.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *