Example 728x250
Pendidikan

Belenggu Rantai Kebodohan: Ketika Pemburu Informasi Menjadi Beban Sosial

61
×

Belenggu Rantai Kebodohan: Ketika Pemburu Informasi Menjadi Beban Sosial

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Sulit membebaskan orang bodoh dari rantai yang mereka hormati.”

Ungkapan filosof Prancis, Voltaire, ini secara akurat memotret fenomena miris dunia pers kita hari ini.

Di kalangan Batak Toba, ada tamsil “Hau naso hasea di tukkang” (kayu yang tak berguna bagi tukang). Bahkan sepotong kayu kecil pun masih bermanfaat sebagai pengganjal.

Namun, ketika oknum yang mengaku jurnalis diibaratkan sebagai kayu yang sama sekali tidak berguna, maka kebodohannya sudah akut.

Menjamurnya pemilik media dan pemimpin redaksi instan bermodal nekat tanpa skill jurnalisme telah mengubah profesi mulia ini menjadi beban nyata bagi masyarakat.

Dari aspek etika, keberadaan oknum wartawan abal-abal atau “bodrex” ini merupakan bentuk pengkhianatan tertinggi terhadap publik. Jurnalisme lahir untuk melayani kebenaran berdasarkan Kode Etik Jurnalistik.

Ketika fungsi tersebut bergeser menjadi alat intimidasi demi keuntungan pribadi, mereka bukan lagi pencari berita, melainkan pelaku kriminal yang berlindung di balik kartu pers. Ketiadaan kompetensi membuat mereka gagal membedakan antara fakta, opini, dan fitnah.

Secara psikologis, para pemburu informasi tanpa keahlian ini mengidap delusi kompetensi. Mereka merasa berkuasa untuk menakut-nakuti, namun di saat yang sama memelihara mentalitas inferior sebagai pengemis kasus.

Ada dorongan psikologis yang menyimpang di mana rasa hormat didapatkan dari rasa takut orang lain, bukan dari kualitas karya. Mereka nyaman menghormati rantai kebodohannya, menolak dibina, dan menutup diri dari proses belajar.

Tinjauan biologis memandang perilaku agresif ini sebagai bentuk adaptasi primitif yang destruktif untuk bertahan hidup (survival). Manusia memiliki dorongan biologis untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Namun, ketika fungsi kognitif dan keterampilan tidak diasah, jalur pintas yang diambil adalah menjadi predator sosial. Mereka menggunakan identitas jurnalis untuk memangsa sesama demi mengamankan kebutuhan perut, tanpa memedulikan kerusakan ekosistem sosial di sekitarnya.

Dari dimensi ekonomi, aksi pemerasan ini menciptakan distorsi dan ekonomi biaya tinggi (high-cost economy). Alih-alih mendorong transparansi, mereka menjadi parasit yang memeras pelaku usaha hingga pejabat publik.

Dana publik yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan justru habis tersedot untuk melayani intimidasi mereka. Ini adalah bentuk kegiatan ekonomi parasitik yang merugikan produktivitas masyarakat tanpa menghasilkan nilai tambah apa pun.

Dari sisi Islam, profesi jurnalis sesungguhnya menempati posisi yang sangat mulia di dalam AlQur’an. Tugas jurnalis identik dengan prinsip tabayyun (verifikasi) sebagaimana diperintahkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, agar masyarakat terhindar dari malapetaka informasi.

Ketika fungsi mulia ini diubah menjadi alat pemerasan, mereka telah melanggar esensi moral agama. Mereka memakan harta sesama dengan cara yang batil dan mengotori marwah profesi yang seharusnya menegakkan keadilan.

Pada akhirnya, komunitas jurnalis investigasi harus mengambil sikap tegas. Seseorang tidak bisa disebut jurnalis hanya karena memegang kartu pers atau memiliki media.

Tanpa etika dan kompetensi, mereka hanyalah sekumpulan pemburu yang tersesat di dalam belenggu kebodohan mereka sendiri.

Jurnalisme yang baik dapat membimbing masyarakat, sedangkan jurnalisme yang buruk dapat menghancurkannya.”
Joseph Pulitzer

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *