Example 728x250
MOTIVASI

Paradoks Pengejaran: Saat Dunia Mengejar Hamba yang Bersujud

32
×

Paradoks Pengejaran: Saat Dunia Mengejar Hamba yang Bersujud

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Banyak orang mengira bahwa semakin keras mengejar dunia, semakin dekat pula dunia itu kepada dirinya. Namun, realitas sering kali membuktikan sebaliknya.

Ungkapan komedian sekaligus musisi Raim Laode menjadi refleksi spiritual yang mendalam:

“Suatu hari saya kejar dunia, dia berlari. Akhirnya saya fokus perbaiki sholat, justru dunia yang berbalik mengejar saya.”

Kalimat ini seolah merangkum filosofi zuhud yang sesungguhnya—paradoks di mana manusia tidak perlu membanting tulang mengejar sesuatu yang sejatinya telah dijamin oleh Sang Pencipta.

Dari perspektif Islam, konsep ini sejalan dengan hadis: “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niat (tujuan utamanya), maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan di dalam hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan terhina.”

Hadis ini menjelaskan bahwa ketika prioritas hidup diorientasikan kepada Allah. Allah tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga mempermudah urusan duniawi hamba-Nya.

Fokus memperbaiki sholat—seperti yang diungkapkan Raim Laode—adalah kunci pembuka pintu rezeki. Allah berfirman dalam Surah Thaha ayat 132:

“…Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.”

Ayat ini merupakan penegasan bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki manusia. Manusia diperintahkan untuk fokus pada ketaatan, sementara urusan rezeki telah diatur oleh hukum kepastian Ilahi.

Ketika seorang hamba menyempurnakan sholatnya—baik dari segi waktu, kualitas bacaan, maupun kekhusyukannya—ia sedang mengetuk pintu langit dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, shalat dipahami bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan manifestasi ketakwaan yang mengundang pertolongan Allah, termasuk mendatangkan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.

Sebaliknya, menjadikan dunia sebagai tujuan utama justru mendatangkan kegelisahan. Rasulullah mengingatkan bahwa siapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran selalu membayangi pandangannya.

Padahal, ia tidak akan pernah mendapatkan bagian dunia melebihi dari apa yang telah ditetapkan baginya.

Ungkapan Raim Laode adalah pengingat berharga di tengah gaya hidup materialistis masa kini. Ketika manusia sibuk mengejar materi, dunia akan terus berlari menjauh karena sifatnya yang tidak ada habisnya.

Namun, saat seseorang membalik orientasinya—fokus memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta—dunia justru datang mengejarnya dengan cara yang penuh keberkahan.

Kesimpulannya, perbaikan kualitas sholat bukanlah penghalang bagi seseorang untuk sukses di dunia. Justru, sholat yang khusyuk menjadi energi positif yang mengarahkan setiap langkah manusia untuk bekerja dan berikhtiar di jalan yang diridai. Pada akhirnya, dunia yang mengejar kita adalah bonus dari ketakwaan, sedangkan akhirat adalah tujuan abadi yang sesungguhnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *