Example 728x250
MOTIVASI

Mereka yang tidak Punya Keberanian, Selalu Punya Pembenaran atas Ketakutannya

15
×

Mereka yang tidak Punya Keberanian, Selalu Punya Pembenaran atas Ketakutannya

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Ketakutan adalah sifat warisan yang manusiawi. Ketakutan adalah alarm alami yang dirancang untuk menjaga kita tetap hidup. Namun, dalam realitas modern, alarm ini sering kali mengalami korsleting.

Persoalan besar muncul ketika ketakutan tidak lagi sekadar menjadi pelindung. Tetapi bagai jangkar yang menghentikan langkah.

Kita sering membungkus ketakutan itu dengan label yang terdengar bijaksana: kehati-hatian, kalkulasi matang serta menunggu momentum yang tepat.

Padahal, jurnalisme investigasi mengajarkan kita bahwa di balik topeng “belum saatnya” itu, sering kali ada rasa takut yang sedang kita manjakan.

“Mereka yang tidak punya keberanian akan selalu mendapatkan dalih yang membenarkan ketakutannya,” tulis Albert Camus.

Di dunia jurnalisme yang penuh risiko, kutipan ini adalah cermin diri kita.

Secara biologis, ketakutan dikendalikan  amigdala, sepasang struktur berbentuk kacang almon di dalam lobus temporal otak.

Amigdala bertindak sebagai sistem radar bahaya yang bekerja super cepat. Bahkan sebelum kesadaran kita menyadarinya.

Saat kita menghadapi ancaman—seperti ancaman fisik atau intimidasi hukum—amigdala langsung mengirimkan sinyal darurat ke hipotalamus. Sinyal ini memicu pelepasan hormon adrenalin dan kortisol secara masif ke dalam darah.

Akibatnya, detak jantung meningkat, napas memburu, dan otot menegang. Ini adalah mekanisme fight-or-flight (lawan atau lari). Masalahnya, amigdala modern sering kali “salah baca”.

Ia memperlakukan kecemasan psikologis—seperti takut gagal atau takut dikucilkan—sama persis seperti ancaman fisik dari predator mematikan.

Secara psikologis, di sinilah dalih itu lahir sebagai mekanisme pertahanan ego. Ketika amigdala berteriak “bahaya”, korteks pre-frontal (otak berpikir) kita yang terjebak ketakutan mulai merancang narasi rasionalisasi.

Kita meyakinkan diri sendiri bahwa berhenti adalah pilihan paling logis.  Padahal, kita hanya sedang melarikan diri dari ketidaknyamanan biokimia di dalam tubuh kita sendiri.

Dalam dunia jurnalisme investigasi, pertarungan melawan amigdala ini terjadi setiap hari. Sejarah mencatat kisah legendaris Bob Woodward dan Carl Bernstein dari The Washington Post saat membongkar Skandal Watergate pada tahun 1970-an.

Bayangkan ketakutan yang mereka hadapi. Mereka melacak benang merah korupsi yang mengarah langsung ke orang paling berkuasa di dunia: Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon.

Ada seribu satu dalih rasional untuk menghentikan investigasi tersebut. Ancaman kurungan penjara, rusaknya reputasi karir. Hingga keselamatan nyawa adalah bayang-bayang nyata. Yang siap memicu amigdala mereka kapan saja.

Jika Woodward dan Bernstein memilih “kehati-hatian” sebagai dalih untuk mundur, skandal penyalahgunaan kekuasaan terbesar dalam sejarah Amerika itu tidak akan pernah terungkap.

Keberanian mereka mendobrak dalih ketakutan adalah alasan mengapa kebenaran akhirnya menang.  Presiden pun terpaksa mengundurkan diri.

Dari sudut pandang motivasional, ketakutan yang dibiarkan menjadi dalih akan mematikan daya dorong (drive). Motivasi membutuhkan ruang gerak dan keberanian menghadapi ketidakpastian untuk bertumbuh.

Ketika kita membiarkan ketakutan menentukan pilihan, kita sedang membangun tembok penjara kita sendiri, membatasi potensi. Lantas,  membunuh inovasi sebelum ia sempat lahir.

Sebagai Muslim, nilai-nilai Islam memberikan sudut pandang yang sangat tegas mengenai hal ini.

Islam melarang umatnya dikuasai rasa takut terhadap sesama makhluk atau ketidakpastian masa depan. Ketakutan yang melumpuhkan sering kali berakar dari lemahnya tawakal.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali ‘Imran: 139).

Keberanian dalam Islam bukan berarti nekat tanpa perhitungan. Justru melangkah dengan persiapan terbaik. Lantas, menyandarkan hasilnya kepada Allah (tawakal), setelah membuang jauh-jauh dalih yang melemahkan jiwa.

Bagi seorang jurnalis, terutama di lini investigasi, keberanian adalah modal utama. Keberanian bukan berarti hilangnya rasa takut di dalam dada atau matinya fungsi amigdala.

Keberanian adalah kesadaran bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada rasa takut itu sendiri: kebenaran publik.

Jika kita terus memelihara dalih, kita tidak akan pernah mengungkap apa yang tersembunyi. Kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kita bisa melangkah jika setiap riak kecil dianggap sebagai badai yang menghancurkan.

Mari berhenti berdalih. Mari berhenti menjadikan kehati-hatian sebagai topeng dari rasa takut yang belum selesai kita jinakkan.

Pilihan hidup kita terlalu berharga jika hanya ditentukan oleh kecemasan-kecemasan yang kita besarkan sendiri.

Untuk itu, mari kita merenungkan untaian kalimat dari Nelson Mandela yang sangat relevan dengan perjuangan kita melawan ketakutan:

“Aku belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemenangan atas rasa takut itu. Orang yang berani bukanlah dia yang tidak merasa takut, melainkan dia yang berhasil menaklukkan rasa takut tersebut.”***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *