Oleh: Wahyudi El Panggabean
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kutipan sakral ini menjadi tamparan keras bagi manusia modern yang kerap terjebak dalam ilusi kognitif bahwa kebahagiaan selalu berbanding lurus dengan jumlah materi yang dikumpulkan.
Banyak orang lupa bahwa semakin banyak harta yang diraih, rasa ketidakpuasan justru sering kali semakin membuncah dan merusak ketenteraman batin yang paling dalam.
Fenomena ini menjadi potret nyata bagaimana uang sama sekali tidak bisa menjamin kedamaian hati manusia. Justru sebaliknya, bagi jiwa-jiwa yang tidak pernah merasa cukup, tumpukan materi hanya akan melahirkan kecemasan baru yang bersifat eksistensial, kering, dan tidak berkesudahan di dalam ruang domestik keluarga.
Kondisi psikologis ini kerap menjadi ujian berat bagi ketahanan sebuah keluarga. Tengoklah realita ketika seorang yang berprofesi sebagai lawyer senior di usia matang mengalami penurunan jumlah klien secara drastis pada platform digitalnya.
Ketika rutinitas siaran langsung setiap hari di TikTok yang biasa menghasilkan pundi-pundi finansial dari konsultasi hukum berbayar mulai sepi peminat, kecemasan akut pun merayap masuk ke dalam pikirannya.
Kegelisahan tersebut ternyata tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan menjalar tanpa kendali dan mengontaminasi seluruh atmosfer rumah tangga.
Hal ini pada akhirnya mengusik ketenangan suami dan anak-anak yang berada di dalam satu atap yang sama. Padahal, jika disikapi dengan mata batin yang jernih, kehidupan selalu diatur oleh Allah dengan mekanisme keseimbangan yang luar biasa indah.
Secara biologis, kecemasan yang berlarut-larut ini merupakan manifestasi dari ketidakseimbangan sistem saraf otonom di dalam tubuh manusia.
Ketika seseorang terus-menerus mengkhawatirkan hilangnya sumber pendapatan sekunder, otak bagian emosi akan mempersepsikan hal tersebut sebagai ancaman fatal terhadap kelangsungan hidup (threat perception).
Akibatnya, bagian amigdala mengirimkan sinyal darurat yang memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin secara berlebihan ke dalam aliran darah. Tubuh dipaksa berada dalam mode bertahan hidup yang konstan (fight or flight mode).
Kadar kortisol yang tinggi secara kronis inilah yang secara biologis mengikis kemampuan otak untuk merasa rileks, memicu gangguan tidur atau insomnia, hingga memunculkan perilaku impulsif untuk terus menimbun aset fisik sebagai bentuk kompensasi rasa aman yang semu.
Dari sudut pandang ilmu psikologi, fenomena ketidakpuasan ini sangat erat kaitannya dengan apa yang disebut sebagai treadmill hedonik (hedonic treadmill).
Teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung cepat beradaptasi dengan pencapaian materi baru, sehingga rasa bahagia dari kepemilikan aset tersebut akan segera menyusut kembali ke titik nol dan menuntut pencapaian yang jauh lebih tinggi lagi.
Kecemasan seorang profesional hukum yang kehilangan panggung digitalnya juga bersumber dari hilangnya validasi sosial, pengakuan publik, dan aktualisasi diri.
Ketika identitas diri seseorang terlanjur melekat erat pada status finansial dan popularitas, penurunan omzet akan dirasakan sebagai ancaman langsung terhadap harga diri (self-esteem).
Ego yang terluka ini menciptakan kecemasan neurotik yang membuat individu menutup mata dari segala realita kebaikan yang ada di sekelilingnya.
Padahal, Sang Pencipta telah memberikan jaminan neraca keseimbangan yang begitu nyata di depan mata keluarga tersebut.
Ketika pintu rezeki dari lini konsultasi hukum berbayar di media sosial tampak menyusut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala langsung membukakan pintu rezeki lain melalui bakti anak-anak yang luar biasa.
Kehadiran putra-putri—yang telah mandiri dan rutin mengirimkan bantuan finansial minimal sebesar belasan juta setiap bulan adalah sebuah bentuk rezeki sekunder yang harusnya mendatangkan kebahagiaan.
Namun ironisnya, karena terjebak dalam lingkaran kecemasan batin, dana bantuan tersebut justru dialihkan secara obsesif untuk merenovasi rumah, berinvestasi pada emas, dan menumpuk kekayaan fisik lainnya.
Rumah yang direhab menjadi megah dan tumpukan emas yang berkilau ternyata gagal menjalankan fungsinya sebagai penenang jiwa, karena esensi kedamaian tidak pernah terletak pada benda mati.
Perspektif spiritual di dalam kitab suci Al-Qur’an secara tegas telah mengingatkan umat manusia mengenai tabiat destruktif ini. Dalam Surah At-Takasur ayat 1-2, Allah mengingatkan:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Ayat ini menjadi teguran keras bagi manusia yang menghabiskan seluruh sisa usianya hanya untuk menumpuk harta demi memuaskan nafsu ego yang semu.
Lebih lanjut, dalam Surah Al-Fajr ayat 20, disebutkan pula karakteristik manusia yang mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan:
“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” Al-Qur’an secara gamblang menggarisbawahi bahwa keterikatan batin yang terlalu kuat pada materi hanya akan berujung pada penderitaan spiritual yang kering.
Ketenangan yang hakiki sebaliknya hanya bisa diraih melalui zikir dan rasa syukur yang mendalam, sebagaimana termaktub dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”
Esai ini membawa kita semua pada satu kesimpulan filosofis yang mutlak: jangan pernah menggantungkan kedamaian hati pada jumlah angka di rekening atau banyaknya investasi logam mulia.
Kehidupan ini telah didesain oleh Sang Pencipta dengan hukum keseimbangan yang sangat sempurna.
Jika hari ini satu pintu pencaharian ditutup, percayalah ada jendela berkah lain yang sedang dibuka lebar-lebar untuk kita, termasuk lewat bakti anak-anak.
Bagi orang yang memelihara penyakit kecemasan di hatinya, istana semegah apa pun akan tetap terasa seperti penjara yang sempit. Maka, kembalilah pada janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Berhentilah gelisah, tataplah wajah keluarga dengan penuh syukur, dan biarkan ketenangan itu mengalir kembali ke dalam rumah Anda.***













