Example 728x250
Hukum & Kriminal

Pelantikan Rocky Gerung di Wantimpres Picu Amarah Publik, Disebut “Penjilat” Istana

21
×

Pelantikan Rocky Gerung di Wantimpres Picu Amarah Publik, Disebut “Penjilat” Istana

Sebarkan artikel ini

Kabar mengejutkan datang dari Istana Negara. Pengamat politik sekaligus filsuf yang dikenal vokal, Rocky Gerung, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Pelantikan yang berlangsung pada Jumat, 2 Oktober 2026 tersebut memicu badai kritik, amarah, dan kekecewaan mendalam dari publik.

Selama ini, Rocky dikenal sebagai “panglima” kritik yang tanpa ampun menyerang kebijakan penguasa. Namun, keputusannya masuk ke dalam lingkar kekuasaan membuatnya dituduh telah berbalik arah demi jabatan.

Di berbagai platform digital, netizen meluapkan kekesalan mereka. Banyak yang merasa dikhianati oleh sosok yang dahulu dianggap sebagai simbol oposisi akal sehat.

“Sangat menjijikkan. Semua kata-kata manis tentang oposisi hancur ketika disodori kursi kekuasaan,” ujar salah satu komentar publik yang viral di media sosial pascapelantikan. tuduhan sebagai “penjilat baru” pun ramai disematkan kepadanya.

Menanggapi arus balik kemarahan masyarakat, salah satu aktivis senior dan koordinator Gerakan Masyarakat Sipil Peduli Demokrasi memberikan pandangannya.

“Publik berhak marah dan kecewa. Masuknya Rocky ke birokrasi membuktikan bahwa panggung kritik di Indonesia sering kali hanya menjadi batu loncatan menuju kekuasaan. Ini preseden buruk bagi kaderisasi oposisi intelektual,” ujar narasumber investigasi, saat diwawancarai di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (4/10/2026).

Di sisi lain, Rocky Gerung mencoba membela diri saat ditemui awak media di kompleks Istana Kepresidenan. Ia mengklaim tidak ada yang berubah dari prinsipnya meski kini berada di dalam sistem.

“Alasan gue menolak apa? Ya kan cuman pindah, saya cuman pindah dari luar ke dalam. Sikap saya tetap, pandangan saya tetap, radical break. Udah,” cetus Rocky usai pelantikan.

Rocky berkilah bahwa Wantimpres memiliki fungsi etis untuk melihat dampak dan arah kebijakan, bukan menjalankan urusan teknis pemerintahan.

Kendati demikian, alasan tersebut dinilai publik sebagai retorika pembenaran semata. Integritas sang akademisi kini berada di titik nadir di mata para pendukungnya yang kecewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *