Example 728x250
Pendidikan

‘Kompetensi Tersirat’ Guru dalam Kitab Ta’lim Muta’allim

6
×

‘Kompetensi Tersirat’ Guru dalam Kitab Ta’lim Muta’allim

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

DUNIA pendidikan modern sibuk dengan sertifikasi. Guru dinilai dari selembar kertas. Skor formal menjadi penentu utama kompetensi.

Namun, mari kita tengok ke belakang. Kita bedah kitab klasik Ta’lim Al Muta’allim. Karya monumental Syekh Al-Zarnuji ini ditulis berabad-abad lalu.

Uniknya, buku ini bukan untuk guru. Buku ini adalah panduan bagi para pelajar.

Di sinilah letak daya tarik investigasinya. Karena ditulis untuk murid, rumusan kompetensi guru di dalamnya tidak disajikan telanjang.

Sifatnya inferensial. Artinya, kita harus membaca, melacak, dan menyimpulkannya sendiri.

Sebagai jurnalis, kita terbiasa membaca yang tersirat. Kita mencari kebenaran di balik fakta yang tampak. Kitab ini menuntut ketajaman yang sama.

Jejak kompetensi guru tersebar di sepanjang bab etika murid. Mari kita lacak salah satu petunjuknya.

Al-Zarnuji meminta murid memilih guru yang paling alim. Murid juga harus memilih guru yang paling wara‘—artinya guru yang menjaga diri dari dosa. Terakhir, guru haruslah sosok yang lebih senior secara usia.

Dari petunjuk ini, kita bisa menarik kesimpulan besar. Kompetensi guru tidak boleh instan. Kompetensi pertama adalah kedalaman ilmu (alim).

Kompetensi kedua adalah integritas moral yang tinggi (wara‘). Kompetensi ketiga adalah kematangan pengalaman hidup.

Investigasi teks ini berlanjut pada bab penghormatan. Kitab ini melarang murid berjalan di depan gurunya. Murid juga dilarang menduduki tempat duduk sang guru.

Secara inferensial, aturan ketat ini mengirim pesan kuat. Seorang guru wajib memiliki kompetensi sosial yang tinggi.

Guru harus mampu membangun wibawa yang besar. Tanpa wibawa, transfer ilmu akan gagal total.

Ada juga perintah agar murid patuh pada arahan guru saat memilih metode belajar. Ini membuktikan satu hal lagi.

Guru dituntut menguasai kompetensi pedagogis yang matang. Mereka harus paham psikologi anak didiknya. Guru tahu persis obat yang tepat untuk setiap kebodohan.

Ta’lim Al Muta’allim memang tidak memiliki bab “Syarat Menjadi Guru”. Namun, lewat pembacaan inferensial, kita menemukan standar yang sangat tinggi. Standar yang melampaui formalitas administratif zaman sekarang.

Secara filosofis, konsep Al-Zarnuji ini sejalan dengan perenialisme. Aliran filsafat Barat ini meyakini bahwa pendidikan harus kembali pada nilai-nilai abadi.

Tokoh perenialisme seperti Robert Hutchins menegaskan bahwa tugas pendidikan adalah mengembangkan kemanusiaan universal, bukan sekadar melatih keterampilan teknis yang cepat usang.

Ada sintesis kuat antara pemikiran Al-Zarnuji dan Hutchins. Keduanya sama-sama menolak pendidikan yang dangkal dan pragmatis.

Perenialisme menekankan transfer kebenaran abadi dari masa lalu. Al-Zarnuji menyediakan medianya lewat keteladanan seorang guru yang spiritualis.

Namun, mengintegrasikan sintesis Zarnuji-Perenial ini ke dalam konsep kompetensi guru modern tidaklah mudah. Kita dihadapkan pada sejumlah tantangan nyata:

Benturan Birokrasi Formal: Sistem administrasi kita menuntut indikator kinerja yang serba terukur secara kuantitatif, sedangkan nilai wara’ dan keabadian moral sulit dinilai dengan angka presisi.

Arus Komersialisasi: Pendidikan masa kini cenderung berorientasi pasar kerja instan, yang sering kali mengabaikan pencarian kebenaran universal demi keterampilan praktis jangka pendek.

Pergeseran Budaya Otoritas: Pola kepatuhan mutlak murid zaman klasik kini bergeser menjadi hubungan yang lebih egaliter, sehingga konsep wibawa guru tradisional harus didefinisikan ulang agar tidak terjebak dalam feodalisme.

Sekularisasi Kompetensi: Standar kompetensi modern cenderung memisahkan keahlian profesional dengan kesalehan spiritual pribadi, sesuatu yang dalam konsep Zarnuji justru menjadi fondasi utama.

Guru bukan sekadar kurir informasi yang berubah setiap ganti kurikulum. Guru adalah pemegang obor nilai universal tersebut.

Maka, kompetensi guru sejati tidak terletak pada gelar yang berderet. Kompetensi itu ada pada kedalaman ilmu, keagungan akhlak, dan wibawa yang dirasakan langsung oleh murid.

Kitab klasik ini telah memberikan cetak birunya secara tersirat. Tugas kita hari ini adalah membacanya kembali dengan teliti.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *