Example 728x250
MOTIVASI

Tidak Ada yang Melukaimu Kecuali Penilaianmu Sendiri

41
×

Tidak Ada yang Melukaimu Kecuali Penilaianmu Sendiri

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Epictetus pernah menulis kalimat bijak:  “Tidak ada yang benar-benar melukai kita. Kecuali penilaian kita sendiri”.

“Jika Anda belajar mengendalikan penilaian, apa pun yang terjadi hanya akan menjadi peristiwa. Bukan penderitaan”.

Pernyataan filsuf Stoa ini sangat mendalam. Kalimat itu memisahkan antara fakta obyektif dan respon subyektif. Bagi seorang jurnalis investigasi, prinsip ini adalah perisai mental yang kokoh.

Secara psikologis, konsep ini sejalan dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Pikiran kita yang menentukan emosi kita. Bukan peristiwa eksternal.

Saat menghadapi ancaman atau teror karena sebuah berita, rasa takut muncul dari penilaian kita terhadap risiko tersebut. Jika kita menilainya sebagai akhir dari segalanya, kita akan menderita.

Namun, jika kita menilainya sebagai bagian dari dinamika profesi, ancaman itu berubah menjadi peristiwa biasa yang harus dimitigasi.

Secara biologis, penilaian pikiran langsung mempengaruhi tubuh. Ketika kita menilai suatu kejadian sebagai ancaman fatal, otak akan mengaktifkan amigdala.

Hormon kortisol dan adrenalin melonjak. Jantung berdetak kencang. Stres kronis pun terjadi.

Sebaliknya, dengan mengendalikan penilaian, kita menjaga tubuh tetap tenang. Otak tetap berada dalam kendali prefrontal cortex. Kita bisa berpikir jernih di bawah tekanan.

Dari sisi motivasi, kendali penilaian adalah bahan bakar ketahanan. Jurnalisme investigasi penuh dengan penolakan dan kebuntuan. Naskah dicoret, narasumber bungkam, atau gugatan hukum menanti.

Jika kita menilai kegagalan sebagai tanda ketidakmampuan, motivasi kita akan mati. Tetapi, jika kita menilainya sebagai petunjuk untuk mencari jalan lain, motivasi kita akan tetap menyala. Peristiwa buruk justru menjadi pupuk mental.

Dalam aspek komunikasi, prinsip ini sangat krusial. Jurnalis investigasi sering berhadapan dengan provokasi. Narasumber yang marah atau pelaku korupsi yang memaki.

Jika ego kita terluka oleh penilaian negatif, komunikasi akan rusak. Kita akan menyerang balik secara emosional. Dengan mengendalikan penilaian, kita tetap objektif.

Kita fokus pada fakta, bukan pada serangan personal. Komunikasi tetap terjaga demi kepentingan publik.

Nilai-nilai Islam juga memperkuat pandangan Epictetus ini. Dalam Islam, konsep ini dikenal erat dengan husnuzhan (berprasangka baik) dan ridha atas takdir. Allah SWT berfirman dalam Al–Qur’an:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.”

Konsep ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian buruk pada suatu peristiwa.

Setiap ujian adalah ketetapan yang mendewasakan. Penderitaan lahir saat manusia menolak takdir dengan keluhan. Ketenangan hadir saat manusia menerima peristiwa dengan sabar.

Bagi komunitas jurnalis, dunia luar tidak pernah ramah. Kita tidak bisa mengendalikan tindakan para koruptor.

Kita tidak bisa membungkam mulut para pengancam. Yang bisa kita kendalikan sepenuhnya adalah ruang di dalam kepala kita sendiri.

Mari kita latih pikiran untuk tidak ringkih. Mari kita ubah setiap badai di lapangan menjadi sekadar peristiwa di lembar catatan. Jangan biarkan penilaian yang keliru mengubah tantangan profesi menjadi penderitaan pribadi.

“Hidup adalah 10 persen apa yang terjadi pada Anda dan 90 persen bagaimana Anda meresponnya.” – Charles R. Swindoll

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *