Example 728x250
Opini

Jika Semua Orang Merasa Benar, Lantas Dari Mana Kesalahan Itu Berasal?

10
×

Jika Semua Orang Merasa Benar, Lantas Dari Mana Kesalahan Itu Berasal?

Sebarkan artikel ini

Wahyudi El Panggabean

Pertanyaan retoris dalam judul opini saya ini, bukan sekadar permainan kata. Kalimat itu, merupakan paradoks mendasar dalam kehidupan sosial kita.

Dalam dunia investigasi, persilangan klaim kebenaran adalah makanan sehari-hari. Setiap aktor, narasumber. Bahkan interogator, acap kali berdiri tegak di atas kebenarannya masing-masing.

Namun, jika semua pihak mengklaim memegang kompas yang akurat, mengapa benturan dan kekacauan tetap terjadi di lapangan? Mengapa distorsi informasi dan konfrontasi justru menjadi muara dari ego. Dan saling bertabrakan?

Jawabannya terletak pada keterbatasan optik manusia. Kita, secara jujur, sering kali keliru menafsirkan kilatan persepsi sebagai sebuah kebenaran mutlak.

Sisi Biologis Merasa Benar

Secara biologis, otak manusia dirancang untuk mempertahankan rasa aman di atas segalanya. Struktur otak purba kita, terutama amigdala—pusat pemrosesan emosi dan ancaman—cenderung memproses perbedaan pendapat sebagai sebuah ancaman fisik yang mengancam nyawa.

Ketika keyakinan kita digugat, amigdala langsung membajak nalar logis (amygdala hijack). Kemudian memicu lonjakan hormon kortisol serta adrenalin.

Akibatnya, tubuh masuk ke dalam mode bertahan hidup: fight or flight (lawan atau lari).

Seterusnya, kita akan mempertahankan argumentasi secara agresif. Demi menjaga stabilitas mental.

Lantas, otak kita memperlakukan “koreksi dari orang lain” dengan cara yang sama persis seperti saat kita menghadapi ancaman predator fisik.

Penjara Ego dan Filter Bias Konfirmasi

Dari sisi psikologis, fenomena ini diperparah oleh apa yang disebut sebagai confirmation bias. Atau bias konfirmasi. Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk hanya mencari, mengingat, dan memercayai informasi yang mendukung keyakinan awal mereka.

Ego psikologis menciptakan dinding tebal yang menyaring realitas. Akibatnya, kita menjadi buta terhadap fakta obyektif yang berada di luar peta kognitif kita sendiri.

Larangan Mengklaim Kesucian Diri

Islam telah memberikan peringatan keras ribuan tahun silam seputar bahaya merasa paling benar ini. Dalam Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 32, Allah SWT berfirman:

“…Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

Ayat ini secara tegas melarang manusia melakukan klaim kesucian. Yakni, kebenaran sepihak. Menepuk dada sebagai pemilik tunggal kebenaran adalah bentuk kesombongan spiritual yang nyata.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahaya debat kusir yang dipicu oleh ego. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud, beliau menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang menghindari perdebatan.

Sekalipun orang tersebut berada di pihak yang benar.

Prinsip Islam ini mengajarkan kita untuk menundukkan ego. Demi kemaslahatan yang lebih besar. Kebenaran absolut hanyalah milik Sang Pencipta. Seementara manusia hanya memegang serpihan perspektif.

Kebuntuan Lewat Alternatif Ketiga

Lantas, bagaimana kita mengurai benang kusut perdebatan ini? Dr. Stephen R. Covey menawarkan solusi visioner melalui strategi Alternatif Ketiga (The 3rd Alternative).

Bagi Covey, konflik tidak harus berakhir dengan kemenangan salah satu pihak (Cara Saya) atau kekalahan pihak lain (Cara Anda).

Solusi terbaik adalah menciptakan “Cara Kita”—sebuah jalan keluar baru yang jauh lebih tinggi dan sinergis.

Mari kita lihat relevansinya dalam sebuah kasus investigasi nyata sebagai illustrasi. Bayangkan sebuah konflik agraria antara perusahaan kelapa sawit besar dan masyarakat adat setempat.

Perusahaan merasa benar karena memegang dokumen legalitas HGU resmi (Cara Saya). Di sisi lain, masyarakat adat juga merasa paling benar karena menduduki tanah ulayat leluhur mereka secara turun-temurun (Cara Anda).

Jika jurnalis atau mediator terjebak dalam dikotomi “siapa yang benar dan salah”, perdebatan akan buntu dan berujung anarki. Solusinya adalah mencari Alternatif Ketiga.

Melalui strategi Covey, kedua pihak dipetakan bukan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk bersinergi.

Hasilnya adalah sebuah resolusi baru: perusahaan mengintegrasikan skema kemitraan plasma yang adil dan mengakui wilayah konservasi adat.

Di pihak lain, warga mendapatkan kepastian ekonomi tanpa kehilangan identitas budaya mereka.

Empat Langkah Taktis Menuju Sinergi

Untuk mencapai Alternatif Ketiga yang transformatif seperti ini, ada empat langkah taktis yang mesti kita tempuh secara disiplin sesuai versi Covey.

Melihat Diri Sendiri. Kita harus memiliki kesadaran penuh untuk memeriksa motif internal dan mengenali bias yang kita miliki sebelum menilai orang lain.

Melihat Anda. Ini adalah fase di mana kita berhenti memandang pihak lain sebagai musuh atau lawan bicara, melainkan sebagai mitra dialog yang setara.

Mencari Anda. Pada tahap ini, kita menerapkan komunikasi empatik dengan mendengarkan secara mendalam. Tujuannya, untuk benar-benar memahami sudut pandang mereka. Bukan untuk mendebatnya.

Bersinergi dengan Anda. Di sinilah keajaiban terjadi, mana kala kedua pihak duduk bersama. Guna merumuskan solusi baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Akhir Kata: Melampaui Labirin Ego

Sebagai jurnalis dan pencari fakta, coba renungkan kembali langkah-langkah gagasan Covey di atas. Sebab sebagai wartawan investigasi, kita selalu dituntut untuk melampaui ego pribadi maupun kelompok.

Mesti berani melangkah keluar dari labirin “merasa benar”. Demi melihat kebenaran yang lebih utuh dan objektif.

Sebab, hanya dengan menurunkan tensi ego biologis, memahami batasan psikologis, dan menghayati spiritualitas, kita dapat mengubah polarisasi menjadi kolaborasi yang produktif.

Tanda dari pikiran yang terdidik adalah kemampuan untuk menoleransi sebuah pemikiran tanpa harus menerimanya.” — Aristoteles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *