Example 728x250
Opini

Skenario Langit di Balik Borgol Sang Penguasa Gedung Bundar

52
×

Skenario Langit di Balik Borgol Sang Penguasa Gedung Bundar

Sebarkan artikel ini

Analisis: Kasus Mantan Jampidsus: Febrie Adriansyah

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Dinamika politik dan panggung penegakan hukum di tanah air belakangan ini, menyajikan sebuah balada yang benar-benar melampaui batas nalar manusia.

Alur batinnya bergerak begitu cepat. Menikung tajam, sekaligus meruntuhkan tembok keangkuhan yang selama ini dianggap mustahil untuk ditembus.  Oleh kekuatan apa pun.

Bagi mereka yang jeli membaca realitas melalui kacamata spiritual, fenomena ini bukan sekadar urusan pasal pidana atau sengkarut rivalitas antarelite.

Ada getaran metafisika yang teramat kuat, menandakan bahwa Sang Penguasa Semesta sedang mengintervensi keadilan dengan cara-Nya yang tak terduga.

Mari kita arahkan lensa investigasi pada titik runtuhnya sebuah episentrum kekuatan. Nama Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), selama ini bergaung dengan nada penuh wibawa. Sekaligus menggetarkan nyali bagi siapa pun yang bersinggungan dengannya.

Gedung Bundar Kejaksaan Agung berada sepenuhnya dalam kendali jemarinya. Sebagai panglima penyidikan megakorupsi, ia memegang kunci nasib banyak orang—mulai dari barisan pengusaha papan atas hingga para pembuat kebijakan di negeri ini.

Namun, roda nasib berputar lebih cepat daripada kedipan mata manusia. Hari ini, potret dirinya bertransformasi secara drastis, menghiasi halaman utama ratusan media massa dalam siluet yang sangat kontras.

Tidak ada lagi tatapan mata tajam di balik meja kekuasaan yang mutlak. Sang mantan jenderal lapangan hijau itu kini terpaksa melangkah menunduk, berbalut rompi tahanan, dengan kedua pergelangan tangan terikat borgol besi.

Langkah kakinya yang dahulu tegap menghentak kini harus dikawal ketat oleh petugas menuju kendaraan tahanan. Ruang kerja megah yang dahulu dipenuhi berkas perkara raksasa kini berganti menjadi dinding sunyi di Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kejaksaan Agung secara mengejutkan menetapkan sang mantan pimpinan sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi dan pencucian uang (TPPU).

Temuan fantastis berupa aset-aset bernilai ratusan miliar rupiah menjadi gerbang pembuka bagi kejatuhannya yang begitu paripurna.

Bagi publik, ini adalah anomali hukum terbesar abad ini. Bagaimana mungkin seorang kurator keadilan yang bertugas memburu para koruptor justru berakhir diburu oleh sistemnya sendiri atas dugaan syahwat culas yang serupa?

Di sinilah letak nalar manusia dipaksa berhenti berteori. Dan kesadaran teologis mulai mengambil alih diskursus. Peristiwa tragis ini adalah visualisasi konkret.  Sebuah replika hidup dari firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran ayat 26:

“…Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan (rendahkan) siapa pun yang Engkau kehendaki…”

Ayat suci tersebut bukanlah sekadar baris teks teoretis dalam kitab suci. Ia adalah hukum alam semesta yang bekerja secara presisi ketika manusia mulai merasa menjelma menjadi tuhan-tuhan kecil di atas bumi.

Ketika Allah berkehendak mencabut kemuliaan dari pundak seseorang, tidak ada satu pun jaring pengaman duniawi yang mampu menahannya. Jabatan bintang, pengaruh politik, jaringan kolega, hingga benteng proteksi hukum terbaik pun akan luruh seketika dalam semalam pemeriksaan.

Sebagai jurnalis investigasi, kita sering kali terpaku pada dokumen formal, kesaksian verbal, dan labirin aliran dana.

Namun, kasus Febrie memberikan kita sebuah dimensi baru: bahwa di atas hukum positif yang acapkali rentan dimanipulasi, ada hukum langit yang tidak mengenal kata kompromi ataupun negosiasi.

Tragedi kejatuhan ini seyogianya menjadi peringatan keras bagi para pemegang amanah kekuasaan yang saat ini masih bertakhta di singgasana mereka.

Jangan pernah bertindak semena-mena dengan wewenang yang ada.  Sebab rompi tahanan dan dinginnya borgol bisa berpindah tangan kapan saja atas kehendak-Nya.

Ketika hukum manusia tampak buntu dan terjebak dalam intrik tebang pilih, intervensi Tuhan selalu memiliki formula yang mengejutkan untuk mengembalikan keadilan pada porosnya. Kemuliaan hari ini bisa menjelma menjadi kehinaan esok hari.

Justru itu, siapapun tidak boleh main-main dengan kekuasaan dan amanah rakyat yang disematkan di dadanya. Ada kekuasaan mutlak yang selalu memantau dari Langit.

Esai ini kita pungkasi dengan sebuah refleksi mendalam dari seorang pemikir dan khalifah besar dunia, Umar bin Khattab, yang selalu relevan dalam membaca pasang surut kekuasaan manusia:

Kekuatan yang sesungguhnya adalah ketika engkau memiliki kemampuan untuk berbuat zalim kepada orang lain. Namun engkau menahannya karena tahu bahwa Allah jauh lebih berkuasa atas dirimu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *