Oleh: Wahyudi El Panggabean
Sarkasme Benjamin Franklin abad lalu kini menemukan panggung termegahnya. “Teman palsu dan bayangan, hanya hadir saat matahari bersinar.”
Di Indonesia, kita mengenalnya lewat petatah-petitih lokal: jika air lagi pasang, kura-kura juga naik ke pohon.
Inilah metafora abadi tentang kekuasaan dan materi. Saat Anda berada di puncak kejayaan, semua orang mendadak mengaku saudara. Ruang tamu Anda akan penuh sesak oleh sanjungan.
Namun, cobalah amati saat Anda jatuh miskin atau kehilangan jabatan. Jangankan didengar, kebenaran paling mutlak yang Anda ungkapkan pun hanya akan dianggap bagai buih kecil di tengah samudra. Hilang tak berbekas, disapu ombak ketidakpedulian.
Dalam kehidupan modern yang serba distraktif saat ini, fenomena ini mengalami evolusi yang mengerikan. Menjadi penjilat seolah telah bergeser dari sekadar aib moral menjadi sebuah “profesi terselubung”.
Mari kita buka tabirnya di ruang-ruang kekuasaan. Di birokrasi, di partai politik, di lingkaran pemerintahan, hingga ke dalam komunitas pergaulan sehari-hari. Para pengambil muka ini selalu hadir dengan metode yang sangat rapi.
Secara politis, pragmatisme buta telah merusak tatanan meritokrasi. Di dalam birokrasi dan partai politik, kompetensi sering kali kalah telak oleh tingkat kepatuhan yang membabi buta.
Asal Bapak Senang (ABS) bukan lagi sekadar sindiran zaman Orde Baru. Ia telah menjelma menjadi strategi bertahan hidup demi mengamankan logistik dan posisi politik. Kebijakan publik akhirnya tidak dirancang berbasis data, melainkan berbasis selera sang penguasa.
Dampak mental penjilat ini mengalir langsung secara destruktif ke dalam proses perumusan kebijakan publik. Ketika para pengambil kebijakan dikelilingi oleh para pemuji, lahir sebuah fenomena psikologi kelompok yang fatal: groupthink.
Di titik ini, tidak ada lagi ruang bagi kritik, evaluasi, atau perdebatan yang sehat. Kebijakan publik yang lahir dari rahim penjilatan cenderung bersifat kosmetik, sekadar proyek mercusuar untuk memuaskan ego pimpinan atau menyenangkan pemberi donor politik.
Data lapangan yang pahit tentang kemiskinan atau kegagalan program sengaja dimanipulasi dan dipercantik. Akibatnya, anggaran negara yang bersumber dari keringat rakyat terbuang sia-sia untuk membiayai program-program yang tidak menyentuh akar masalah riil di masyarakat.
Jika ditinjau dari sisi psikologis, perilaku menjilat ini sebenarnya berakar dari rasa tidak aman (insecurity) yang kronis. Para pengambil muka ini sadar akan keterbatasan kapasitas intelektual atau integritas mereka.
Untuk menutupi kelemahan tersebut, mereka memanipulasi ego sang pemimpin. Di sisi lain, sang pemimpin yang narsistik akan sangat menikmati asupan pujian palsu ini. Terjadilah hubungan mutualisme yang merusak tatanan organisasi.
Secara biologis, jika kita mau jujur melihat ke dalam teori evolusi, perilaku ini menyerupai adaptasi mimikri. Mirip bunglon yang mengubah warna kulit demi keamanan diri atau untuk mengelabui mangsa.
Dalam sosiobiologi, ini adalah bentuk strategi bertahan hidup yang oportunistik. Bedanya, hewan melakukan mimikri demi insting kelangsungan hidup yang alamiah, sementara manusia modern melakukannya demi keserakahan dan tumpukan materi.
Bagaimana nilai-nilai Islam memandang fenomena akut ini? Islam secara tegas melarang keras perilaku kemunafikan dan penjilatan.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Muslim bahkan memberikan peringatan yang sangat keras:
“Jika kamu melihat orang-orang yang suka memuji, maka taburkanlah pasir ke wajah-wajah mereka.”
Sanjungan palsu dinilai berbahaya karena dapat merusak kalbu, mematikan nalar kritis pemimpin, dan menyuburkan kezaliman. Dalam perspektif spiritual, mengagungkan manusia secara berlebihan demi jabatan adalah bentuk pergeseran tauhid yang nyata.
Bagi kita di Forum Jurnalis Investigasi, fenomena ini adalah musuh utama yang harus terus dipelototi. Penjilat di lingkaran kekuasaan adalah produsen utama bagi lahirnya kebijakan yang koruptif dan manipulatif.
Mereka akan selalu membisikkan laporan-laporan palsu demi menyenangkan telinga penguasa, sembari menyembunyikan penderitaan rakyat yang sebenarnya di bawah karpet birokrasi.
Tugas jurnalisme investigasi adalah menjadi angin buritan yang meniup karpet tersebut. Kita harus berani membongkar kepalsuan yang dikemas sebagai prestasi.
Jangan biarkan panggung republik ini terus-menerus dikuasai oleh mereka yang pandai membebek dan bermuka dua. Kita butuh kebenaran yang kokoh, bukan sanjungan yang rapuh.
Sebab, sejarah selalu mencatat bahwa dinasti-dinasti besar runtuh bukan karena musuh dari luar. Mereka hancur karena digerogoti dari dalam oleh rayap-rayap penjilat yang selalu berkata “siap, benar” pada setiap kekeliruan.
Sejalan dengan apa yang pernah diingatkan oleh filsuf besar dunia, Marcus Tullius Cicero:
“Seorang musuh yang jujur selalu lebih baik daripada seorang teman yang memalsukan segalanya.”
_________
* Drs. Wahyudi El Panggabean, MH., MT.BNSP., C.PCT adalah seorang jurnalis senior, akademisi, dan Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC). Beliau juga seorang Pembicara Publik bersertifikasi BNSP (Master Trainer BNSP), instruktur komunikasi, serta penulis produktif berbagai buku jurnalistik. Di antara karya tulisnya adalah Wartawan Berani Beretika, Strategi Wartawan Menembus Narasumber, dan Untukmu yang Ingin Menjadi Wartawan Sukses.









