Example 728x250
Opini

Seni Menjaga Jarak, Menolak Benturan, Merawat Kehormatan Diri

68
×

Seni Menjaga Jarak, Menolak Benturan, Merawat Kehormatan Diri

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Ada peribahasa Arab Kuno dengan ungkapan sederhana. Tetapi terasa mengingatkan kita:

Berkunjunglah sekali-sekali saja, niscaya Anda akan dicintai.”

Ini bukan sekadar anjuran sosial. Ini adalah sebuah alarm keras bagi umat manusia.

Dunia hari ini terlalu bising karena orang-orang lupa cara menjaga jarak. Kita bergerak terlalu dekat. Kita bergesekan terlalu sering. Akibatnya fatal: nilai diri luntur dan benturan ego tidak terhindarkan.

Fisika mengajarkan sebuah hukum yang mutlak lewat Hukum Newton. Sir Isaac Newton merumuskan bahwa benda cenderung mempertahankan keadaannya jika tidak ada gaya luar yang mengintervensi (Hukum I Newton).

Maka, dua bola yang digelindingkan konstan pada lintasan yang terlalu berdekatan pasti akan bertemu pada satu titik: benturan.

Saat benturan itu terjadi, Hukum III Newton (Aksi-Reaksi) bekerja seketika. Semakin keras hantaman akibat kedekatan yang dipaksakan, semakin besar pula gaya rusak yang saling memantulkan.

Petuah lama juga telah mengunci kebenaran ini. “Dekat terasa bau busuk, jauh malah harum”. Kedekatan yang berlebihan tanpa kontrol spasi meniscayakan lahirnya gesekan yang merusak martabat.

Mari kita bedah dari kacamata politik. Di panggung kekuasaan, jarak adalah nyawa dari sebuah strategi. Politisi yang terlalu intim dengan lawan atau kawan sering kali kehilangan daya tawar.

Koalisi yang terlalu lekat meniscayakan konflik kepentingan yang akut. Ketika jarak politik kabur, fungsi kontrol check and balances runtuh seketika. Pemimpin yang gagal menjaga jarak dari lingkar kekuasaannya akan terjebak dalam nepotisme dan pelukan para penjilat.

Seni politik yang adiluhung justru terletak pada kemampuan memelihara jarak yang anggun. Jarak menciptakan wibawa. Jarak menegakkan objektivitas kekuasaan.

Secara komunikasi psikologis, jarak adalah ruang bernapas bagi kewarasan hubungan. Keintiman tanpa batas memicu kejenuhan ekstrem yang merusak psikis.

Saat kita terlalu sering hadir, kehadiran kita tidak lagi dianggap sebagai hadiah, melainkan beban. Kata-kata kehilangan bobotnya karena diucapkan terlalu sering tanpa jeda kontemplasi.

Menjaga jarak psikologis bukan berarti membangun tembok permusuhan. Ini adalah cara kita memberi ruang bagi orang lain untuk menghargai eksistensi kita. Di sinilah rasa hormat dan penghargaan itu tumbuh subur kembali.

Jika ditinjau secara biologis, hukum jarak ini tertanam dalam cetak biru pertahanan makhluk hidup. Setiap organisme memiliki konsep “ruang personal” atau proxemics untuk bertahan hidup.

Lihatlah bagaimana pohon-pohon di hutan membatasi kanopinya agar tidak saling tumpang tindih secara destruktif. Di dunia hewan, pelanggaran terhadap jarak teritorial berarti maklumat perang.

Bahkan pada tingkat sel, benturan yang terlalu padat memicu stres biologi dan kematian sel. Alam semesta telah mendesain bahwa keharmonisan hidup hanya bisa tegak melalui spasi yang presisi.

Bagi seorang jurnalis investigasi, menjaga jarak bukan lagi sekadar pilihan sosial, melainkan harga mati sebuah integritas. Di forum jurnalis investigasi, kita tahu betul bahwa musuh terbesar kebenaran adalah “kedekatan yang melesapkan objektivitas”.

Seorang wartawan yang terlalu dekat dengan narasumber—apalagi pemangku kekuasaan—pasti akan tumpul penanya. Kedekatan itu membunuh daya kritis. Jarak yang terlalu intim mereduksi jurnalis investigasi menjadi sekadar corong humas.

Ingatlah, bau busuk skandal korupsi atau penyimpangan kekuasaan hanya bisa tercium tajam jika jurnalis berdiri di jarak yang tepat. Jarak yang independen. Jarak yang merdeka dari intervensi emosional dan materi.

Sebagai seorang instruktur dalam setiap diktum jurnalistik saya selalu menekankan ketangguhan jiwa. Menjaga jarak menuntut keuletan batin yang luar biasa. Wartawan investigasi tidak boleh larut dalam kenyamanan pelukan narasumber.

Keberanian mengungkap kebenaran lahir dari skill dan kesediaan untuk berdiri tegak di luar lingkaran subjek investigasi. Jauh membuat pandangan kita menjadi lebih luas dan tajam melihat anatomi ketidakadilan.

Pada akhirnya, hidup adalah seni mengatur ritme kedekatan. Jangan biarkan diri kita menjadi murah karena selalu ada di setiap sudut waktu orang lain. Jangan biarkan profesi kita runtuh karena hilangnya sekat independensi.

Mundur satu langkah bukan berarti kalah. Mengambil jarak—seperti hukum fisika Newton—adalah cara kita menghindari tabrakan fatal dan mengumpulkan momentum untuk dihormati lebih tinggi.

Mari kita renungkan apa yang pernah dikatakan oleh petinju legendaris dunia, Muhammad Ali:

Diam adalah emas ketika kamu tidak bisa memikirkan jawaban yang baik.”

Dalam konteks hubungan manusia, keheningan dan jarak yang sengaja kita ciptakan adalah emas yang merawat kilau kehormatan diri kita di mata dunia. Jaga jarak Anda, dan rawatlah martabat Anda.

_________

Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., M.T. BNSP., C.PCT adalah seorang jurnalis investigasi senior, Menulis belasan buku: tentang jurnalis, berbicara dan menulis. Direktur Utama Lembaga Pendidikan Jurnalistik Pekanbaru Journalist Center (PJC). Juga merupakan pemegang sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) serta pengajar bersertifikat (Certified Professional Competen Trainer / C.PCT). Penulis aktif mengedukasi jurnalis muda di Indonesia tentang pentingnya integritas, hukum pers, dan ketangguhan mental dalam mengungkap kebenaran di lapangan melalui pendekatan investigasi yang independen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *