Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Karpet Merah Istana di MH Thamrin: Mengapa Destry Damayanti Jadi Pilihan Tunggal Prabowo?

49
×

Karpet Merah Istana di MH Thamrin: Mengapa Destry Damayanti Jadi Pilihan Tunggal Prabowo?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi menyetor nama Destry Damayanti ke DPR RI sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif melalui Surat Presiden (Surpres) pada Senin (10/8/2026).

Langkah cepat Mensesneg Prasetyo Hadi menyerahkan Surpres ini bertujuan mengisi kekosongan kursi BI-1 pasca mundurnya Perry Warjiyo secara mendadak karena alasan kesehatan pada Juli 2026 lalu.

Manuver politik satu nama ini dinilai sebagai langkah taktis Istana demi menjamin stabilitas moneter nasional tanpa gejolak pasar. Respons pelaku pasar pun terpantau langsung positif, terbukti dari nilai tukar rupiah yang bergerak menguat ke level Rp17.765 per dolar AS sesaat setelah pengumuman tersebut mencuat ke publik.

Sorotan jurnalisme investigasi kini tertuju pada rekam jejak mentereng Destry Damayanti, ekonom senior kelahiran Jakarta, 16 Desember 1963. Lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia dan peraih gelar Master of Science dari Cornell University, AS, ini bukanlah orang baru di lingkaran elit kebijakan moneter.

Destry tercatat pernah menjabat sebagai Chief Economist Mandiri Sekuritas (2005–2011), Chief Economist Bank Mandiri (2011–2015), Ketua Satgas Ekonomi Kementerian BUMN (2014–2015), hingga Anggota Dewan Komisioner LPS (2015–2019).

Kariernya di bank sentral kian kokoh setelah sukses mengemban jabatan Deputi Gubernur Senior BI selama dua periode (2019–2024 dan 2024–2029) serta langsung bertindak sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI begitu Perry Warjiyo meletakkan jabatan.

Pencalonan tunggal ini membawa misi krusial dalam menjaga independensi bank sentral di tengah implementasi revisi UU P2SK. Konfirmasi dari internal parlemen menyebutkan bahwa Komisi XI DPR RI dijadwalkan segera menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap Destry pada 14 Agustus 2026, tepat setelah masa reses DPR berakhir.

Bagi publik dan pengamat investigasi kebijakan publik, kepemimpinan Destry ke depan akan diuji oleh tantangan berat, mulai dari menjaga volatilitas rupiah, mengendalikan inflasi domestik, hingga menavigasi dinamika geoekonomi global yang makin tidak menentu.

Restu bulat dari parlemen diprediksi kuat akan mulus dikantongi Destry demi menjaga keberlanjutan roda ekonomi nasional.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *