Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Kaya Struktur, Miskin Takdir: Ketika Sistem Memenjarakan Martabat Manusia

24
×

Kaya Struktur, Miskin Takdir: Ketika Sistem Memenjarakan Martabat Manusia

Sebarkan artikel ini

Kemiskinan sering kali dituduhkan sebagai akibat dari kegagalan personal. Cap “pemalas” atau “kurang pintar” dengan mudah disematkan kepada mereka yang hidup di bawah garis kecukupan.

Namun, pandangan ini adalah bentuk pengabaian terhadap realitas yang jauh lebih kelam. Kemiskinan sejati bukan sekadar produk dari malasnya individu, melainkan hasil dari kerusakan sistemik yang terstruktur rapi.

Secara sosiologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui System Justification Theory (Teori Justifikasi Sistem). Teori psikologi ini mengungkap kecenderungan manusia untuk mempertahankan, membela, dan membenarkan status quo ekonomi dan politik yang ada, bahkan ketika sistem tersebut merugikan mereka.

Masyarakat sering kali tanpa sadar memaklumi ketimpangan dengan dalih “memang sudah nasibnya”. Akibatnya, alih-alih menggugat kebijakan yang tidak adil, publik justru menyalahkan korban (blaming the victim) atas kemiskinan yang mereka alami.

Secara ekonomi, sistem yang rusak menciptakan jebakan kemiskinan (poverty trap) yang mustahil ditembus hanya dengan modal “kerja keras”.

Ketika akses terhadap modal, pendidikan berkualitas, dan layanan kesehatan tersentralisasi pada segelintir elit, mobilitas vertikal bagi masyarakat bawah menjadi mitos.

Pasar yang tidak berpihak pada keadilan distributif hanya akan memperkaya yang sudah kaya dan memenjarakan yang miskin dalam siklus utang serta ketergantungan.

Dari sisi psikologis, kemiskinan sistemik ini menghancurkan mentalitas manusia melalui apa yang disebut learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari).

Ketika seseorang berulang kali berusaha namun terus dijatuhkan oleh aturan main yang curang, otak mereka akan menyimpulkan bahwa usaha tidak lagi berguna. Ini bukan malas, melainkan keputusasaan psikologis yang mendalam akibat ruang gerak yang dimatikan oleh sistem.

Islam memandang persoalan ini dengan sangat tegas. Dalam perspektif Islam, kemiskinan struktural terjadi karena adanya kezaliman dalam distribusi kekayaan.

Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan bahwa harta tidak boleh hanya berputar di antara orang-orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7). Ketika sistem ekonomi membiarkan penimbunan, monopoli, dan eksploitasi merajalela, maka kemiskinan yang tercipta adalah sebuah dosa struktural.

Islam tidak hanya menyuruh si miskin bersabar, tetapi memerintahkan penguasa dan sistem untuk menegakkan keadilan sosial dan menjamin hak-hak kaum dhuafa.

Pada akhirnya, membebaskan manusia dari jerat kemiskinan tidak cukup dengan sekadar memberikan motivasi untuk bekerja lebih keras. Kita harus berani membongkar dan memperbaiki sistem yang rusak.

Selama ketidakadilan struktural masih dijustifikasi, maka selama itu pula kemiskinan akan terus diproduksi oleh sistem, bukan oleh takdir. (Wahyudi El Panggabean) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *