Example 728x250
MOTIVASI

Usahakanlah Hal – Hal Besar bagi  Tuhan

6
×

Usahakanlah Hal – Hal Besar bagi  Tuhan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

“Harapkanlah hal-hal besar dari Tuhan. Usahakanlah hal-hal besar bagi Tuhan,” inilah pesan religiutas dari Teolog Inggris, William Carey.

Ungkapan Carey terasa sebagai cetak biru universal tentang bagaimana manusia seharusnya berfungsi.  Berjuangdan bermakna.

Bagi Forum Jurnalis Investigasi, kutipan ini bertransformasi menjadi bahan bakar orisinal. Terutama bagi para pencari kebenaran yang kerap membentur tembok kekuasaan yang kokoh.

Jika dibedah, prinsip ini bekerja secara presisi dalam lintas disiplin ilmu & spiritual. Hingga rekam jejak sejarah para tokoh besar dunia.

Dari perspektif biologi, ungkapan Carey adalah gambaran nyata mekanisme adaptasi manusia.

Secara neurobiologis, saat berani “mengharapkan hal besar”, otak mengaktifkan Reticular Activating System (RAS). Proses ini memicu pelepasan dopamin, neurotransmiter yang memotivasi pengejaran target.

Mengharapkan sesuatu yang besar terbukti mengubah arsitektur otak melalui proses neuroplastisitas. Sel-sel saraf membentuk jaringan baru untuk mendukung kapasitas kerja yang lebih berat.

Sementara itu, “usaha besar” yang konsisten akan meningkatkan efisiensi energi tubuh dan ketahanan fisik (endurance). Ini bukti bahwa batas biologis manusia sangat elastis dan menolak menyerah.

Secara psikologis, kalimat ini memicu self–efficacy (efikasi diri) tingkat tinggi. Ini adalah keyakinan mendalam bahwa seseorang mampu memproduksi hasil yang diinginkan.

Harapan besar bertindak sebagai jangkar mental. Ia mencegah keputusasaan saat realitas di lapangan sama sekali tidak berpihak.

Ketika digabungkan dengan tindakan nyata, individu akan mengembangkan grit atau keteguhan hati yang luar biasa. Psikologi positif melihat kolaborasi harapan dan usaha ini sebagai motor utama resiliensi.

Bagi seorang jurnalis investigasi, mentalitas ini adalah perisai psikologis terbaik. Modal utama melawan intimidasi dan rasa takut saat membongkar skandal besar.

Secara motivasional, kutipan Carey adalah formula mutakhir untuk memecah belenggu mediokritas atau sikap puas pada standar rata-rata.

Harapan besar melahirkan visi, sedangkan usaha besar melahirkan eksekusi. Visi tanpa eksekusi adalah halusinasi. Sebaliknya, eksekusi tanpa visi adalah rutinitas menjemukan.

Prinsip ini memaksa kita keluar dari status quo. Menantang kemapanan dan menolak menjadi penonton pasif dalam bentangan sejarah.

Motivasi yang lahir bersifat intrinsik dan jangka panjang. Orientasinya jauh melampaui kepentingan ego pribadi.

Prinsip Carey ini mewujud nyata dalam sejarah perjuangan tokoh dunia. Salah satu manifestasi paling murni terlihat pada kisah nyata William Kamkwamba dari Malawi, Afrika Timur.

Pada periode kelam tahun 2001 hingga 2002, negara Malawi dihantam bencana kelaparan hebat dan kekeringan ekstrem. Kamkwamba yang saat itu baru berusia 14 tahun terpaksa putus sekolah karena kemiskinan.

Namun, remaja ini menolak menyerah pada takdir. Ia memelihara harapan besar kepada Sang Pencipta bahwa desanya bisa diselamatkan dari kekeringan. Berbekal iman itu, ia melakukan usaha keras yang dianggap gila oleh lingkungannya.

Kamkwamba mengobrak-abrik tempat pembuangan sampah, mencari rongsokan sepeda, kipas angin traktor, dan pipa PVC bekas. Bermodal diagram dari buku fisika usang berbahasa Inggris di perpustakaan desa, ia merakit kincir angin pembangkit listrik pertama di daerahnya.

Ia mengharapkan mukjizat besar dari Tuhan, dan mengusahakannya lewat keringat di tumpukan besi tua. Hasilnya, kincir rongsokan itu sukses menggerakkan pompa untuk mengalirkan air tanah, menghalau kelaparan, dan kini namanya dicatat sejarah sebagai salah satu inovator global paling inspiratif.

Menariknya, esensi pemikiran Carey dan pembuktian empiris Kamkwamba ini beresonansi sempurna dengan nilai-nilai Islam.

Dalam Islam, mengharapkan hal besar dari Tuhan setara dengan kewajiban berprasangka baik (Husnuzhan) dan berdoa dengan keyakinan penuh (Raja’).

Allah menegaskan dalam Hadits Qudsi:

“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku pada-Ku.”

Namun, Islam melarang kepasrahan buta. Harapan wajib dikunci dengan Ikhtiar maksimal dan kerja keras, yang diistilahkan sebagai Jihad dalam ruang profesi.

Setelah ikhtiar maksimal, barulah berserah diri (Tawakal). Konsep ini senada dengan Surah Ar-Ra’d ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengusahakan perubahan itu sendiri.

Bagi pembaca di forumjurnalisinvestasi.com, perpaduan prinsip Carey dan determinasi Kamkwamba adalah pengingat tajam.

Investigasi yang berdampak tidak pernah lahir dari mimpi yang kerdil dan kerja setengah hati.

Mengharapkan keadilan yang besar menuntut keberanian membongkar kejahatan yang besar pula.

“Jangan kau puaskan dirimu dengan cerita-cerita tentang bagaimana orang lain berhasil. Ungkapkanlah mitosmu sendiri, bentangkanlah sayapmu, dan terbanglah.”
— Jalaluddin Rumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *