JAKARTA, jurnalisinvestigasi.com — Harga emas batangan bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terpantau langsung merosot tajam pada pembukaan pasar pagi ini, Selasa ().
Komoditas lindung nilai unggulan domestik ini mengalami hantaman penurunan sebesar Rp10.000 per gram. Keputusan sepihak pasar ini memaksa harga jual emas Antam mendarat di posisi Rp2.570.000 per gram.
Penyusutan nilai jual ini berbanding lurus dengan tren pelemahan harga beli kembali atau buyback oleh emiten bersandi ANTM tersebut. Skema investasi hari ini mencatat harga buyback ikut terpangkas Rp10.000, kini merosot ke level Rp2.376.000 per gram.
Dari kacamata investigasi pasar, selisih tebal atau spread perdagangan riil Antam per hari ini melebar signifikan di angka Rp194.000 per gram. Batasan margin ini memicu kalkulasi ulang bagi para pelaku investasi jangka pendek.
Bagi masyarakat yang bertransaksi langsung di jaringan ritel lainnya seperti PT Pegadaian (Persero), harga jual Logam Mulia Antam dipatok melandai tipis di level Rp2.515.000 per gram. Sementara komoditas saingan seperti emas cetakan UBS berada di Rp2.534.000 per gram.
Berdasarkan analisis pergerakan komoditas, amunisi pelemahan emas domestik bersumber dari gejolak pasar spot global (XAUUSD). Keperkasaan indeks dolar AS yang disokong oleh indikasi kebijakan ketat (hawkish) Bank Sentral AS menjadi jangkar pemberat utama.
Tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS memperburuk posisi emas internasional. Sejumlah investor kakap kedapatan mengalihkan portofolio likuid mereka ke instrumen pasar uang berdenominasi dolar.
Kendati demikian, kalkulasi tahunan berjalan (year-to-date) menunjukkan emas murni di Indonesia masih mencatat rapor pertumbuhan positif sekitar 3,29 persen. Sisa gejolak konflik politik dunia dinilai masih menahan emas dari keruntuhan harga yang lebih dalam.
Pakar komoditas memproyeksikan pergerakan teknikal emas Antam dalam beberapa hari ke depan akan menguji level support psikologis berikutnya. Investor ritel diimbau jeli melihat momentum akumulasi bertahap di tengah tren koreksi ini.











