Runtuhnya Menara Kritik
Panggung politik tanah air kembali diguncang oleh sebuah ironi besar.
Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto memicu gelombang kekecewaan masif di tengah masyarakat.
Bagi publik yang merindukan oposisi, langkah ini terasa seperti sebuah antiklimaks.
Sosok yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir akal sehat kini menyeberang ke dalam pusaran kekuasaan.
Siasat Jinakkan Oposisi
Dari kacamata politik, langkah ini memperlihatkan kemenangan telak strategi kooptasi pemerintah.
Kekuasaan berhasil menjinakkan suara paling bising di luar sistem dengan menyediakan karpet merah di Istana.
Bagi publik, kelenturan politik Rocky ini dinilai sebagai runtuhnya konsistensi dalam menjaga jarak yang aman dari otoritas.
Patahan Narasi Publik
Secara komunikasi massa, terjadi patahan narasi yang sangat fatal.
Rocky yang dahulu mahir memproduksi diksi perlawanan kini terjebak dalam disonansi kognitif di ruang publik.
Media massa dan jagat digital yang dulunya menjadi panggung kritik radikalnya, kini dipenuhi oleh sentimen negatif dan gugatan atas kredibilitas sang pemikir.
Naluri Takluk Kekuasaan
Jika dibedah dari perspektif biologis dan psikologis, langkah ini merupakan manifestasi dari homeostasis—dorongan organisme untuk selalu mencari titik aman demi sintasan eksistensi.
Secara psikologis, kedekatan dengan episentrum kekuasaan perlahan mengikis ketajaman sensorik nurani yang biasanya peka terhadap ketimpangan.
Publik kini menangkap metamorfosis perilaku yang drastis, di mana agresivitas seorang disiden mendadak lumpuh dan berubah menjadi pembenaran defensif di bawah ketiak otoritas.
Topeng Palsu Teologi
Dari sudut pandang Al–Qur’an dan hadis, perilaku ini memantik ingatan publik akan bahaya karakter munafik.
Dalam teologi Islam, kemunafikan dicirikan oleh ketidakselarasan drastis antara apa yang diucapkan di mimbar publik dengan apa yang diperbuat ketika dihadapkan pada godaan duniawi.
Dalam Surat As-Saff ayat 2-3 Allah mengingatkan dengan keras:
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Patahan integritas ini dipertegas oleh hadis riwayat Bukhari dan Muslim mengenai tanda orang munafik.
Nabi Muhammad SAW bersabda, di antara ciri tersebut adalah “apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mengingkari.”
Bagi umat, retorika idealisme yang dulu diagungkan kini terasa hambar, berganti menjadi stempel kebohongan publik ketika sang tokoh melompat ke pelukan kekuasaan.
Dibuang Sepanjang Adat
Jika ditarik ke dalam konteks adat dan kebudayaan nusantara, inkonsistensi sikap ini adalah pelanggaran moral yang berat.
Dalam hukum adat berbagai suku, seorang pemimpin atau pelontar sabda yang memakan omongannya sendiri akan dijatuhi sanksi sosial berupa dibuang sepanjang adat.
Ia kehilangan hak moralnya untuk didengar, dikucilkan dari penghormatan, dan dianggap mati secara karakter di tengah komunitasnya.
Siklus Usang Sejarah
Fenomena berputarnya arah jarum kompas intelektual ini sebenarnya bukan barang baru dalam analisis komparatif sejarah.
Kita bisa berkaca pada nasib intelektual Prancis pasca-Revolusi, atau dinamika lokal ketika tokoh-tokoh kritis angkatan ’66 pada akhirnya tergiur oleh struktur birokrasi Orde Baru.
Sejarah mencatat, ketika para pemikir kritis ini masuk ke dalam sangkar emas kekuasaan, taring mereka tumpul dan nama besar mereka perlahan memudar, digilas oleh skeptisisme sejarah.
Tragis Etika Filsafat
Dari sudut pandang kearifan filsafat, apa yang terjadi merupakan sebuah tragedi etis yang mendalam.
Filsafat mengajarkan bahwa kebenaran sejati menuntut independensi mutlak dari segala bentuk intervensi kekuasaan.
Ketika seorang filosof mengajukan diri menjadi penasihat penguasa, ia secara sukarela telah menggadaikan kebebasan berpikirnya demi sebuah jabatan.
Publik merasa dikhianati karena ruang publik kini kehilangan dirigen kritik yang paling lantang.
Harapan akan lahirnya oposisi yang bermartabat kandas di ujung ruang pelantikan Istana Negara.
Kandas Akal Sehat
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat apakah langkah ini merupakan radical break yang nyata atau sekadar proses penjinakan intelektual demi stabilitas elite.
Yang tersisa kini hanyalah puing-puing kekecewaan masyarakat yang merasa ditinggalkan di garis depan perjuangan akal sehat.
Kita patut merenungkan kalimat dingin nan tajam dari Niccolò Machiavelli yang menguliti realitas kepatuhan baru ini:
“Seorang penguasa tidak akan pernah kekurangan alasan sah untuk mematahkan janjinya. Namun, mereka yang menukar lidah kritisnya demi mencicipi sisa makanan di meja kekuasaan, sesungguhnya sedang meminum racun bagi nama besarnya sendiri.”











