Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Tembus Rp18.000: Rupiah Gagal Bertahan

52
×

Tembus Rp18.000: Rupiah Gagal Bertahan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Tekanan berat menghantam mata uang Garuda di pengujung September. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Rabu, 30 September 2026, diprediksi bergerak fluktuatif di zona merah pada rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Kemarin, rupiah secara dramatis sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS di pasar spot exchange. Kondisi ini memicu alarm kewaspadaan di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi mikro.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat mata uang nasional sempat ditutup di posisi Rp17.998 per dolar AS. Angka tersebut mencerminkan kerentanan yang terus berlanjut sejak pertengahan bulan ini.

Penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa pelemahan ini tidak terjadi di ruang hampa. Ada kombinasi faktor global dan domestik yang menguras daya tahan otot rupiah.

Dari eksternal, ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Konflik ini melambungkan harga minyak mentah dunia secara signifikan.

Akibatnya, permintaan terhadap aset safe haven berdenominasi dolar AS meroket tajam. Indeks Dolar AS (DXY) merangkak naik dan mempersempit ruang napas mata uang Asia.

Di dalam negeri, ada kebutuhan likuiditas dolar yang sangat besar dari para importir. Pola penutupan buku akhir kuartal ketiga selalu menjadi siklus krusial yang menuntut pasokan valas tinggi.

Menanggapi situasi ini, otoritas moneter dilaporkan mulai mengubah strategi pembelaan mata uang. Bank Indonesia (BI) kini tidak lagi bertumpu penuh pada intervensi pasar spot konvensional.

Sumber internal menyebutkan porsi intervensi langsung di pasar spot kini ditekan hingga tersisa sekitar 30%. Langkah ini sengaja diambil demi mengamankan Cadangan Devisa (Cadev) dari risiko pengurasan massal.

Sebagai gantinya, BI memaksimalkan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Namun, efektivitas instrumen turunan ini dalam menahan laju pelemahan jangka panjang masih terus dipertanyakan.

Jika rupiah terus bertengger di atas level Rp18.000 dalam beberapa pekan ke depan, dampaknya akan langsung memukul sektor riil. Biaya impor bahan baku industri dipastikan membengkak.

Kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang inflasi baru pada barang-barang konsumsi masyarakat. Tantangan besar kini berada di pundak Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk meredam kepanikan pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *