Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Pagi Ini Menguji Batas Psikologis Rp18.000, Dampak Instabilitas Selat Hormuz Mulai Menekan Domestik

50
×

Rupiah Pagi Ini Menguji Batas Psikologis Rp18.000, Dampak Instabilitas Selat Hormuz Mulai Menekan Domestik

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus melemah dan mulai menguji batas psikologis baru di level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi, 29 September 2026.

Berdasarkan data pasar spot dan Non-Deliverable Forwards (NDF) pagi ini, mata uang Garuda bergerak fluktuatif di rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Kenaikan ini melanjutkan tren depresiasi tajam yang terjadi sejak awal pekan kemarin.

Para analis pasar uang mengonfirmasi bahwa tekanan utama kali ini dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Penolakan Amerika Serikat terhadap proposal perdamaian yang diajukan Iran menyebabkan ketidakpastian jalur perdagangan penting di Selat Hormuz kembali memuncak.

Dampaknya langsung menjalar ke pasar komoditas global. Harga minyak mentah jenis Brent pagi ini tertahan di level tinggi sekitar US$105 hingga US$106 per barel.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak global bertindak sebagai pisau bermata dua. Status Indonesia sebagai negara net-importir minyak memicu lonjakan permintaan valuta asing (valas) dari para importir domestik untuk mengamankan pasokan energi.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun merangkak naik ke posisi 5,23%. Kondisi ini memicu aksi jual di pasar keuangan domestik (capital outflow) karena investor global memilih memindahkan dana mereka ke aset aman yang berdenominasi dolar.

Bank Indonesia (BI) dilaporkan mulai mengubah strategi dalam mengawal nilai tukar. Deputi dan Gubernur BI mengindikasikan bahwa otoritas moneter sengaja mengurangi intervensi langsung di pasar spot guna menjaga ketahanan cadangan devisa negara.

Sebagai gantinya, BI menggeser fokus intervensinya ke pasar NDF serta memaksimalkan insentif hedging (lindung nilai) guna meredam volatilitas kurs. BI-Rate sendiri saat ini masih dipertahankan di level 5,75%.

Menghadapi risiko ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian bersama Kementerian Keuangan dan BI menyatakan terus melakukan koordinasi ketat. Langkah ini krusial mengingat data inflasi September dan rilis kinerja manufaktur kuartal III akan segera diumumkan awal Oktober nanti.

Jika tensi geopolitik di Selat Hormuz tidak segera mereda, pasar memproyeksikan rupiah terancam menembus level Rp18.100 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan, yang akan menjadi sentimen berat bagi stabilitas harga barang impor di dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *