Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Menanti Intervensi BI: Rupiah Terseok di Angka Rp17.930, Bayang-bayang Psikologis Rp18.000 Kian Nyata

41
×

Menanti Intervensi BI: Rupiah Terseok di Angka Rp17.930, Bayang-bayang Psikologis Rp18.000 Kian Nyata

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, jurnalisinvestigasi.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus merosot dan bergerak di kisaran Rp17.930 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pekan terakhir September 2026.

Mata uang Garuda kini hanya berjarak kurang dari Rp70 dari batas psikologis krusial, yaitu Rp18.000 per dolar AS. Angka ini menjadi alarm tersendiri bagi stabilitas makroekonomi domestik.

Tekanan bertubi-tubi bersumber dari kebijakan luar negeri bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Sinyal ketat atau hawkish dari Washington menaikkan ekspektasi pasar akan adanya lonjakan suku bunga lanjutan di kuartal empat.

Solidnya data ekonomi AS—termasuk lonjakan indeks PMI manufaktur global dan penurunan angka pengangguran di sana—membuat indeks dolar kokoh melesat. Modal asing pun berbondong-bondong keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Di sisi lain, melonjaknya harga minyak mentah dunia di atas kisaran US$100 per barel memperparah defisit transaksi berjalan. Indonesia yang bertindak sebagai negara importir energi bersih terpaksa menguras cadangan valuta asingnya demi menjaga pasokan BBM.

Para pelaku pasar kini menanti manuver nyata dari Bank Indonesia. Meski BI sejauh ini menahan suku bunga acuan di level 5,75%, intervensi di pasar spot dan pasar DNDF diramal menjadi benteng terakhir agar rupiah tidak terjungkal menembus level Rp18.000.

Rilis data resmi terkait inflasi nasional dan neraca perdagangan kuartalan yang akan keluar awal Oktober depan diproyeksikan akan menjadi penentu. Apakah rupiah sanggup berbalik arah, atau justru terdepresiasi lebih dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *