Example 728x250
Pendidikan

Haedar Nashir: Kritik Kapitalisme Eksploitatif, Muhammadiyah Dorong Sistem Mitigasi Berbasis Resiliensi

27
×

Haedar Nashir: Kritik Kapitalisme Eksploitatif, Muhammadiyah Dorong Sistem Mitigasi Berbasis Resiliensi

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA – Krisis lingkungan dan tingginya intensitas bencana di Indonesia dinilai tidak lepas dari cara pandang manusia yang cenderung eksploitatif terhadap alam. Menanggapi fenomena tersebut, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendesak adanya perubahan paradigma global, dari yang semula berbasis kapitalisme destruktif menuju pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa pengelolaan kekayaan alam harus berlandaskan prinsip kemaslahatan, bukan eksploitasi yang memicu kerusakan lingkungan. Hal tersebut disampaikan dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Yogyakarta.

Menurut Haedar, keterlibatan aktif organisasi dalam mitigasi dan penanggulangan bencana merupakan manifestasi dari tanggung jawab kemanusiaan global. Ia menyoroti perlunya perumusan ilmu pengetahuan dan sistem proteksi alam yang mampu membendung dampak buruk industrialisasi yang tidak terkendali.

Sistem Otomatisasi dan Tantangan Relawan

Dalam evaluasi keorganisasian, kekuatan utama penanganan dampak bencana di lapangan sejauh ini bertumpu pada jaringan relawan yang adaptif. Sistem respons cepat yang dimiliki MDMC diklaim mampu bekerja secara otomatis saat krisis terjadi, yang membuat lembaga ini kerap mendapat apresiasi di sektor kemanusiaan.

Namun, keberlanjutan sistem ini menghadapi tantangan zaman yang dinamis. PP Muhammadiyah menekankan pentingnya pembaruan struktural secara berkala agar gerakan mitigasi tetap relevan dalam membaca pola bencana modern.

Urgensi Edukasi dan Ketangguhan Non-Urban

Selain kesiapan aktor penyelamat, fokus investigasi kebencanaan kini mengarah pada ketimpangan literasi mitigasi di wilayah non-urban. Masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana kerap memiliki ketangguhan alami yang terbentuk dari pengalaman, namun sering kali minim pengetahuan saintifik terkait risiko geologis atau klimatologis.

Kondisi tersebut menuntut adanya penguatan edukasi pra-bencana yang terstruktur. Muhammadiyah menyatakan komitmennya untuk tidak hanya hadir saat tanggap darurat, melainkan fokus pada pembangunan ekosistem masyarakat yang tangguh, kondusif, dan kohesif sebelum bencana terjadi. Langkah ini diharapkan mampu meminimalisasi fatalitas akibat kelalaian mitigasi di tingkat tapak.
Sumber: Muhammadiyah.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *