Example 728x250
Pendidikan

Obral Murah Gelar “Doktor”: Ketika Jalur Tol Membeli Kehormatan

36
×

Obral Murah Gelar “Doktor”: Ketika Jalur Tol Membeli Kehormatan

Sebarkan artikel ini

Akhir-akhir ini, Indonesia sedang demam tinggi. Bukan demam berdarah, melainkan demam beroleh gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dan Profesor Kehormatan.

Toko-toko akademik tampaknya sedang menggelar diskon besar-besaran. Gelar-gelar mentereng yang dulu sakral, kini dipajang di etalase, siap dipinang oleh siapa saja yang dompetnya cukup tebal.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi sebenarnya sudah jelas. Gelar kehormatan hanya untuk mereka yang berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan atau kemanusiaan.

Namun, di tangan para pemburu status, aturan itu berubah fungsi. Kehormatan tidak lagi dicapai lewat dedikasi, melainkan ditukar dengan transaksi.

Ini adalah sebuah lelucon yang memalukan. Di saat ribuan mahasiswa murni harus memeras otak, begadang menghabiskan kopi, dan menangis darah demi sebuah tesis atau disertasi, sekelompok orang justru melenggang santai lewat “jalur tol” transaksional.

Secara politis, fenomena ini adalah peluru kendali instan. Bagi para pejabat, petinggi partai, atau menteri miskin prestasi, gelar “Dr. (HC)” di depan nama adalah jubah kebesaran baru.

Gelar itu menjadi stempel validasi untuk menutupi kebijakan yang keropos. Logika politiknya sederhana: jika tidak bisa memikat rakyat dengan kecerdasan nyata, pikatlah mereka dengan rentetan huruf di depan nama.

Lucunya, saking malasnya mengantre di kampus lokal, beberapa tokoh kita rela “terbang” ke luar negeri. Mereka bangga memamerkan ijazah dari universitas asing antah-berantah yang alamatnya ternyata cuma menumpang di sebuah ruko atau ruang co-working space di Thailand atau Rusia.

Modus operandi jual beli gelar ini pun makin rapi dan birokratis. Di balik layar, ada “makelar akademik” yang menjembatani sang tokoh dengan oknum senat universitas.

Tarif terselubungnya bervariasi, mulai dari ratusan juta rupiah berkedok “dana hibah pembangunan laboratorium”, hingga komitmen politik berupa kemudahan izin usaha bagi kroni sang rektor. Gelar akademis kini tak diuji di ruang sidang, melainkan dinegosiasikan di ruang makan hotel bintang lima.

Secara psikologis, ini adalah potret gangguan jiwa masyarakat modern yang mengidap sindrom “instanisme”. Kita hidup di era di mana memesan makanan, mencari jodoh, hingga meraih gelar akademik harus bisa dilakukan lewat satu klik.

Manusia modern mengalami kelaparan ego yang akut. Mereka ingin dihormati tanpa perlu bersusah payah. Gelar akademik akhirnya dibeli bukan sebagai lambang ilmu, melainkan sebagai kosmetik untuk menutupi rasa minder di pergaulan sosial.

Jika ditinjau dari sudut pandang biologis, fenomena ini seperti sebuah anomali evolusi. Secara alamiah, makhluk hidup harus beradaptasi dan berjuang untuk mendapatkan posisi tertinggi dalam hierarki kelompok.

Namun, dalam ekosistem akademik kita, seleksi alam itu telah dimanipulasi. Uang dan kekuasaan bertindak seperti steroid buatan. Mereka yang secara intelektual “lemah” tiba-tiba bisa melompat menjadi predator puncak di puncak rantai makanan akademis.

Tentu saja, ini adalah tamparan keras bagi pendidikan ideal. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi benteng moral terakhir, kini bertindak layaknya mucikari yang melacurkan kehormatan intelektual demi setumpuk rupiah atau selembar konsesi.

Ketika kampus berubah menjadi pasar malam dan gelar akademik menjadi komoditas grosiran, maka esensi dari kebenaran ilmiah itu sendiri telah mati. Kita sedang merayakan pembodohan massal yang dilegalkan oleh stempel universitas.

Keywords: Jual Beli Gelar, Honoris Causa, Jalur Tol Akademik, Kampus Abal-Abal, Degradasi Pendidikan, Wahyudi El Panggabean.

“Edukasi tanpa karakter, ilmu tanpa kemanusiaan, dan pengetahuan tanpa kerja keras adalah beberapa dari tujuh dosa sosial yang paling mematikan.”
— Mahatma Gandhi

Wahyudi El Panggabean

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *