Example 728x250
Pendidikan

Kembali Kuliah di Usia 60-an Adalah Senjata Rahasia Melawan Penuaan

30
×

Kembali Kuliah di Usia 60-an Adalah Senjata Rahasia Melawan Penuaan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean 

Keputusan Arif Rahman —seorang pensiunan guru—untuk kembali ke bangku kuliah Program Doktor, adalah sebuah tindakan excellent. Sejak awal September 2026 sang Legend Pendidik ini, memilih jadi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam di Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau.

Saya ingin lebih mendalami kurikulum pendidikan  dari nilai-nilai Alquran dan Hadis,” katanya.

Langkah berani di usia kepala enam ini membuktikan bahwa usia hanyalah deretan angka, bukan batas akhir sebuah pengabdian intelektual.

Lebih dari sekadar pencapaian akademis, keputusan taktis ini mengirimkan “instruksi rahasia” yang sangat kuat kepada seluruh sistem biologis dan mental manusia untuk menolak tua.

Kekuatan “Tujuan” di Usia Senja

Dalam perspektif gerontologi dan psikologi positif, elemen paling mematikan bagi seorang lansia bukanlah penurunan fisik. Tetapi,  hilangnya sense of purpose atau tujuan hidup yang jelas.

Banyak senior mengalami penurunan kesehatan drastis justru setelah mereka pensiun, karena kehilangan arah dan target harian yang bermakna.

Kuliah di usia senja bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang agar terlihat sibuk. Program doktoral ini menyediakan sebuah “kompas baru” yang menuntut komitmen, disiplin, dan target capaian yang nyata.

Ketika seorang senior memiliki tujuan konkret—seperti mengintegrasikan nilai Alquran ke dalam dunia jurnalisme—pikiran mereka memiliki jangkar yang kuat.

Tujuan inilah yang menggerakkan metabolisme tubuh, memicu semangat setiap pagi, dan memberikan alasan kuat mengapa mereka harus tetap sehat dan berumur panjang.

Membongkar Sindrom Pasca-Kuasa

Dari penelusuran psikologis, ketersediaan tujuan hidup yang terukur di ruang kuliah menawarkan solusi atas hampa yang sering muncul pasca-pensiun. Kehilangan rutinitas struktural sering kali menjadi pemicu utama depresi dan penurunan daya tahan tubuh pada lansia.

Saat seorang senior dihadapkan pada target akademik dan riset yang mendalam, jiwa mereka mengalami reaktivasi energi yang luar biasa. Tantangan menganalisis teori dan menggali dalil memicu perasaan berdaya (self-efficacy) yang sangat tinggi.

Perasaan ini bertindak sebagai perisai mental yang ampuh. Ia memblokir kecemasan dan sindrom pasca-kuasa (post-power syndrome) yang kerap mengintai mereka yang mendadak kehilangan eksistensi kerja atau merasa perannya di masyarakat mulai berkurang.

Bukti Otak Bisa Meremaja

Beralih ke ulasan biologi, sains modern membongkar mitos lama bahwa otak lansia pasti mengecil, melemah, dan tidak bisa berkembang lagi. Fakta ilmiah terbaru justru menunjuk pada fenomena menakjubkan yang disebut neuroplasticity.

Ketika seorang mahasiswa senior dipaksa membedah tesis, membaca kitab-kitab klasik, serta menyusun argumentasi ilmiah, otak mereka dipaksa melakukan kerja keras. Aktivitas kognitif tingkat tinggi ini menuntut otak untuk membentuk sinapsis atau sambungan saraf baru.

Ini adalah sebuah investigasi biokimia yang nyata bagi tubuh. Proses belajar di usia senja merupakan mekanisme alami untuk meremajakan sel-sel otak sekaligus memblokir ancaman pikun, demensia, dan penurunan fungsi kognitif.

Melebur di Ruang Antargenerasi

Dari aspek sosial, lingkungan kampus berfungsi sebagai ruang peleburan generasi (intergenerational melting pot) yang sangat sehat. Interaksi ini secara effektif memutus isolasi sosial yang sering kali menimpa kelompok lansia di lingkungan perumahan.

Berdiskusi dengan para dosen muda dan rekan mahasiswa yang berusia jauh di bawahnya memaksa para senior untuk tetap relevan dengan zaman. Mereka tidak akan pernah terasing dari perkembangan teknologi, tren komunikasi, dan pemikiran modern.

Sebaliknya, kehadiran seorang jurnalis senior di ruang kuliah memberikan jangkar moral dan inspirasi nyata. Kombinasi antara energi meledak-ledak khas anak muda dan kearifan hidup dari pengalaman puluhan tahun menciptakan ekosistem diskusi yang matang dan berbobot.

Olahraga Terselubung Berkedok Kuliah

Investigasi pada aspek kesehatan fisik mengungkap bahwa tuntutan akademis secara tidak langsung bertindak sebagai stimulus medis. Aktivitas bangun pagi, bersiap menuju kampus, dan berjalan di koridor akademik adalah bentuk olahraga terselubung.

Secara klinis, kombinasi antara pikiran yang bahagia karena memiliki tujuan belajar dan fisik yang aktif bergerak mampu menurunkan produksi hormon kortisol secara drastis. Kortisol dikenal luas sebagai dalang utama di balik berbagai penyakit degeneratif.

Ketika kortisol ditekan, sistem imun tubuh otomatis akan menguat dan tekanan darah menjadi jauh lebih stabil. Hasilnya adalah tubuh yang jauh lebih bugar, tangguh, dan berenergi dibandingkan dengan rekan seusianya yang memilih pasif di rumah.

Perintah Mutlak Menuntut Ilmu

Bagi seorang Muslim, ikhtiar menuntut ilmu di usia senja memiliki legitimasi hukum yang sangat kuat dan sakral. Islam sama sekali tidak mengenal batas kedaluwarsa atau pensiun dalam hal belajar.

Perintah ini termaktub dalam hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban yang melekat pada setiap individu:

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Lebih jauh lagi, rekam jejak ajaran Islam menunjukkan bahwa kesuksesan dalam menembus batas-batas kehidupan—baik untuk urusan dunia maupun akhirat—hanya bisa dibongkar dengan satu kunci utama, yaitu ilmu pengetahuan.

Rasulullah SAW memberikan formula mutlak mengenai cara memenangkan kehidupan ini melalui sabdanya yang sangat populer di kalangan ulama:

Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya maka hendaklah dengan ilmu.”

Maka, mendalami kurikulum jurnalisme berbasis Alquran dan Hadis di UIN Suska Riau bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang. Ini adalah bentuk manifestasi dari kepatuhan total terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Belajar adalah tugas ideologis yang tidak boleh dihentikan oleh kerutan di wajah.  klKarena ia hanya akan berakhir saat napas terlepas dari badan.

Menolak Tunduk pada Usia

Sejarah peradaban mencatat bukti-bukti otentik tentang keindahan dan keajaiban belajar di usia senja. Salah satu kasus paling fenomenal di dunia pendidikan adalah Kimani Maruge dari Kenya.

Maruge mencatatkan namanya di rekor dunia saat memutuskan mulai masuk sekolah dasar pada usia 84 tahun hanya demi bisa membaca. Semangatnya yang membara membuktikan kepada dunia bahwa hak untuk mencerdaskan pikiran tidak akan pernah bisa dirampas oleh angka usia.

Di dunia industri dan kehidupan praktis, kita juga melihat rekam jejak legendaris Colonel Sanders. Pendiri KFC ini baru mematangkan konsep bisnis global dan meraih kesuksesan masifnya di usia 65 tahun, setelah melewati ratusan penolakan dan kegagalan pahit di masa mudanya.

Mereka adalah bukti hidup bahwa usia hanyalah angka di atas kertas imigrasi. Masa tua yang rapuh tidak diukur dari kerutan di wajah atau warna rambut yang memutih, melainkan dari matinya rasa ingin tahu dan hilangnya semangat juang di dalam dada.

Saat Anda memutuskan untuk kembali melangkah ke ruang kuliah di usia 60-an dengan sebuah tujuan mulia, Anda sedang mempraktikkan investigasi kehidupan yang disimpulkan dengan sangat indah oleh sang inovator dunia, Henry Ford:

Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young.”

(Siapa pun yang berhenti belajar akan menjadi tua, entah di usia dua puluh atau delapan puluh tahun. Siapa pun yang terus belajar akan tetap muda).

Mari terus melangkah, menembus batas ketidakmungkinan, dan terus menulis. Karena ruang kelas terbaik di dunia ini adalah ruang tempat kita dengan sadar menolak untuk berhenti bertumbuh.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *