Example 728x250
Pendidikan

Menemukan Ruang Kebaikan Universal dalam Esensi Kemanusiaan

51
×

Menemukan Ruang Kebaikan Universal dalam Esensi Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Bukan masalah halal dan haram. Tetapi ada suatu tempat. Di tempat itulah kita bertemu. Tempat itu bernama: kebaikan,”_Jalaludin Rumi

Ungkapan di atas sering kali mengejutkan nalar awam. Kalimat ini terasa menohok bagi generasi yang berpikiran sempit dan terjebak dalam fanatisme buta. Namun, untuk memahami kedalamannya, kita perlu mengenal sosok di balik untaian kalimat tersebut.

Jalaluddin Rumi: ulama, teolog, dan sufi agung itu, tidak sedang menegasikan hukum agama lewat kutipannya. Melalui kearifan spiritual abad ke-13. Ia tengah mengajak manusia melihat esensi terdalam dari ketuhanan.

Ia meminta kita melompat dari sekadar formalitas ritual menuju substansi tertinggi beragama. Substansi itu adalah nilai kemanusiaan murni dan kebaikan universal yang melampaui sekat formal.

Dari aspek agama, Islam sejatinya menempatkan akhlak mulia dan kebaikan di atas segalanya. Agama hadir bukan sebagai jeruji penjara kaku, melainkan sebagai panduan menebar rahmat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60). Ayat ini menegaskan kebaikan adalah bahasa universal manusia.

Rasulullah SAW juga memperkuat hal ini dalam sebuah hadis yang sangat relevan:

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.” (HR Thab.rani).

Hadis ini tidak membatasi penerima manfaat pada kelompok atau agama tertentu saja. “Tempat kebaikan” yang dimaksud Rumi adalah manifestasi puncak dari kesalehan spiritual sejati tersebut.

Secara biologi, kecenderungan manusia untuk memilih tempat kebaikan telah tertanam dalam cetak biru evolusi kita. Manusia adalah makhluk komunal yang bertahan hidup melalui kerja sama erat.

Hormon oksitosin atau hormon kasih sayang dilepaskan dalam tubuh saat seseorang berbuat baik. Fenomena biologis ini membuktikan tubuh kita dirancang untuk merespons positif sebuah kedamaian.

Melihat dari aspek psikologis, fanatisme buta lahir dari rasa takut dan ketidakamanan emosional. Ada kebutuhan ekstrem akan validasi kelompok (in-group bias).

Ketika seseorang mengagungkan identitas agamanya demi merendahkan orang lain, mereka mengalami penyempitan kognitif. Sebaliknya, ruang kebaikan milik Rumi justru menawarkan sebuah katarsis spiritual yang menenangkan.

Di ruang ini, ego dilepaskan dan kesehatan mental tercapai dengan baik. Manusia merasa terhubung dengan sesamanya tanpa beban kecurigaan. Kebaikan meruntuhkan dinding pertahanan psikologis yang kaku.

Dalam dimensi sosiologis, masyarakat yang sehat tidak dibangun di atas keseragaman mutlak. Masyarakat kokoh berdiri di atas modal sosial yang kuat serta rasa saling percaya.

Ketika sebuah generasi terjebak dalam dikotomi kaku “kami versus mereka”, struktur sosial akan rapuh. Tafsir agama yang sempit hanya akan memicu keretakan dalam hubungan bernegara.

Kebaikan universal berfungsi sebagai jembatan sosial atau bridging social capital. Di ruang kebaikan tersebut, individu dari latar belakang budaya, ras, dan keyakinan berbeda bisa duduk bersama.

Mereka bersatu untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan nyata seperti kemiskinan ekstrem. Ruang ini menjadi wadah kolaborasi konkret tanpa sekat teologis.

Terakhir, dari sudut pandang jurnalisme, khususnya jurnalisme investigasi, kutipan Rumi menjadi pemandu etik krusial. Tugas utama jurnalis bukan sekadar melaporkan hitam-putih formalitas hukum secara kaku.

Jurnalisme sejati menginvestigasi dampak nyata sebuah kebijakan terhadap hajat hidup publik. Ketika jurnalis membongkar ketidakadilan, mereka membela ruang kebaikan bersama yang dirampas oknum tertentu.

Jurnalisme mengupas topeng moralitas palsu yang kerap digunakan penjahat untuk menindas sesama manusia. Media menjadi benteng pertahanan bagi nilai-nilai kebenaran hakiki di tengah masyarakat.

Melalui analisis perpaduan berbagai aspek ini, kita disadarkan bahwa kefanatikan buta adalah kemunduran peradaban. Menghidupkan pesan Rumi berarti berani keluar dari zona nyaman dogma yang menghakimi.

Kita bergerak menuju lapangan luas tempat semua manusia berpelukan dalam aksi nyata kebaikan. Di sanalah esensi ketuhanan dan nilai kemanusiaan sejati dapat berpadu secara indah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *