Oleh: Wahyudi El Panggabean
Manusia modern hidup dalam labirin pencarian identitas yang melelahkan. Di era digital saat ini, validasi diri sering kali diukur lewat angka digital: jumlah pengikut di media sosial, saldo rekening, hingga rentetan gelar akademis. Fenomena ini memicu pertanyaan eksistensial yang abadi:
“Siapakah saya dan seberapa berharganya saya?”
Berabad-abad lalu, sang Hujjatul Islam, Imam Ghazali, telah merangkum jawaban atas kegelisahan ini dalam sebuah untaian hikmah yang sangat tajam:
“Jika kau ingin tahu nilai dirimu, lihatlah apa yang sedang kau kejar.”
Ungkapan ini bukan sekadar kalimat puitis, melainkan sebuah pisau analisis yang mampu membedah orientasi hidup manusia dari berbagai dimensi.
Dalam tradisi Islam, apa yang dikejar oleh seorang manusia mencerminkan kualitas iman dan maqam (kedudukan) dirinya di hadapan Sang Pencipta. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa orientasi hidup yang salah akan mereduksi nilai kemanusiaan itu sendiri.
Dalam Surah At-Takathur (102: 1-2), Allah SWT berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Ayat ini mengkritik manusia yang menghabiskan energinya hanya untuk mengejar materi yang semu.
Nabi Muhammad SAW juga memperkuat realitas ini melalui hadis monumentalnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”
Ketika seseorang menghabiskan seluruh waktu dan pikirannya untuk mengejar keridaan Ilahi dan kemaslahatan umat, maka nilai dirinya menjadi mulia.
Sebaliknya, jika yang dikejar hanyalah pujian mahluk atau kekuasaan yang koruptif, maka runtuhlah nilai kemanusiaan mereka hingga ke titik terendah. Keinginan yang dikejar bertindak sebagai kompas spiritual yang menentukan akhir perjalanan seorang hamba.
Jika ditarik ke dalam ranah psikologi modern, perkataan Imam Ghazali beririsan langsung dengan teori motivasi dan konsep self-worth (harga diri). Psikologi membagi dorongan manusia menjadi dua: motivasi ekstrinsik (pujian, harta, status) dan motivasi intrinsik (pertumbuhan diri, kedamaian spiritual, kebermaknaan).
Manusia yang terus-menerus mengejar validasi eksternal cenderung terjebak dalam apa yang disebut psikolog sebagai hedonic treadmill.
Mereka berlari tanpa henti mengejar kebahagiaan semu, namun nilainya di mata sendiri justru semakin rapuh karena bergantung pada penilaian orang lain.
Sebaliknya, mereka yang mengejar aktualisasi diri—sebagaimana dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow—memiliki nilai diri yang stabil. Nilai diri mereka ditentukan oleh kontribusi dan ketenangan internal, bukan oleh tepuk tangan penonton. Apa yang kita kejar adalah proyeksi dari apa yang kita rasa kurang di dalam jiwa kita.
Secara biologis, “apa yang kita kejar” dikendalikan oleh arsitektur otak kita, terutama sistem penghargaan (reward system). Ketika manusia menetapkan suatu target—baik itu makanan, uang, maupun status sosial—otak melepaskan neurotransmiter bernama dopamin. Dopamin adalah zat kimia yang mendorong motivasi dan hasrat untuk memburu sesuatu.
Secara evolusioner, dorongan memburu ini dirancang untuk bertahan hidup (survival). Namun, otak manusia memiliki prefrontal cortex yang memungkinkan kita memilih objek buruan yang lebih tinggi nilainya daripada sekadar insting hewani.
Manusia yang didominasi oleh nafsu biologis purba hanya akan mengejar kepuasan jangka pendek: makanan, seks, dan dominasi kekuasaan.
Secara biologis, kualitas hidup seseorang tercermin dari kemampuannya mengendalikan regulasi dopamin ini. Seseorang yang mengejar visi jangka panjang yang mulia menunjukkan fungsi otak tingkat tinggi yang matang, membedakan dirinya dari mahluk hidup lainnya.
Pada akhirnya, kutipan Imam Ghazali bertindak sebagai cermin retak yang memaksa kita melihat refleksi jiwa yang sebenarnya.
Tulisan ini, yang lahir dari ruang redaksi investigasi, mengajak kita semua untuk menginvestigasi diri sendiri. Apa yang paling banyak menyita pikiran kita di sepertiga malam? Apa yang membuat kita rela mengorbankan prinsip dan idealisme?
Jika yang kita kejar setiap hari adalah hal-hal yang fana, maka sekecil itulah nilai diri kita. Namun, jika yang kita perjuangkan adalah kebenaran, keadilan, dan kemanfaatan bagi sesama, maka nilai diri kita menjadi tak terbatas.
Di forum jurnalisme yang menuntut integritas ini, mari kita tanya kembali pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya sedang kita kejar hari ini?”













