Example 728x250
Pendidikan

Menyusuri Akar Emosi: Fakta Kebutuhan Manusia untuk Merasa Paling Dibutuhkan

62
×

Menyusuri Akar Emosi: Fakta Kebutuhan Manusia untuk Merasa Paling Dibutuhkan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Mantan Ibu Negara Amerika Serikat, Eleanor Roosevelt, pernah bertutur bernas:

Dalam setiap interaksi, perasaan benar-benar sangat dibutuhkan dan diinginkan yang membuat kita meraih kepuasan terbesar dan ikatan paling langgeng”.

Manusia selalu mencari tempat yang mengerti perasaannya.

Ungkapan ini bukan sekadar pemanis retorika. Ia adalah sebuah hipotesis psikologis yang membedah fakta hakiki manusia: hasrat untuk “merasa dibutuhkan” jauh lebih kuat daripada sekadar bertahan hidup secara fisik.

Sebagai jurnalis, tugas kita adalah mengupas fakta di balik permukaan. Memahami apa yang menggerakkan manusia secara biologis, psikologis, hingga motivasi di era modern adalah kunci untuk membaca arah peradaban yang kian berjarak.

Dari sudut pandang biologi, kebutuhan untuk dibutuhkan terkait erat dengan neurokimia otak. Ketika seseorang merasa dihargai dan diandalkan, otak melepaskan hormon oksitosin dan dopamin yang menekan kortisol (hormon stres).

Secara evolusioner, berkelompok dan saling membutuhkan adalah mekanisme pertahanan hidup manusia purba agar selamat dari predator. Kesendirian di masa lampau berarti maut.

Dalam ranah psikologi, kebutuhan ini bertengger kuat pada pilar rasa memiliki (belongingness) dalam Hierarki Maslow. Saat manusia merasa kehadirannya membawa dampak solutif bagi orang lain, harga dirinya melesat naik.

Dari perspektif motivasi, perasaan dibutuhkan adalah katalis yang mengubah sikap apatis menjadi proaktif. Seseorang akan mengerahkan energi optimal ketika mereka tahu perannya dinanti.

Jurnalis legendaris Walter Cronkite pernah mengisyaratkan bahwa jurnalisme bertugas mencari kebenaran tentang kondisi manusia. Dan kebenaran paling mendasar adalah manusia secara psikologis menolak diabaikan.

Namun, investigasi terhadap realitas sosial hari ini menangkap potret yang mengkhawatirkan.

Di era digital, manusia menghadapi badai “kesepian modern”. Kita terkoneksi secara global melalui teknologi, namun terisolasi secara emosional.

Berdasarkan data berskala internasional dari Riset Global State of Social Connections Meta-Gallup, hampir 24 persen populasi dunia—atau setara dengan 1 dari 4 orang berusia 15 tahun ke atas—merasa sangat atau cukup kesepian.

Ironisnya, data tersebut mengungkap bahwa kelompok paling rentan bukanlah lansia, melainkan generasi muda berusia 19-29 tahun dengan tingkat kesepian mencapai 27 persen.

Sejalan dengan itu, laporan berkala dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa 1 dari 6 orang di seluruh dunia terdampak oleh epidemi isolasi sosial ini.

Dampak kesehatan dari rasa tidak dibutuhkan dan kesepian kronis ini sangat fatal. Bahkan WHO mengestimasikan hal ini memicu sekitar 100 kematian setiap jam di seluruh dunia.

Ketika seseorang merasa kontribusi personalnya tidak lagi diinginkan atau esensial bagi lingkungan sekitarnya—tergeser oleh rutinitas mekanis atau kecerdasan buatan—kekosongan eksistensial akan muncul dan memicu krisis mental yang akut.

Membangun Ruang Validasi
Untuk melawan alienasi modern ini, kita harus secara sadar menciptakan lingkungan—baik di ruang redaksi, rumah, maupun komunitas—yang mengerti perasaan manusia melalui tiga langkah praktis:

Mendengar Aktif: Alihkan pandangan dari gawai saat berbicara dengan sesama. Berikan perhatian penuh agar lawan bicara merasa eksistensinya dianggap penting.

Delegasi Berbasis Kepercayaan: Berikan tanggung jawab yang spesifik kepada rekan atau anggota keluarga. Ketika kita memercayakan suatu tugas kritis kepada seseorang, kita sedang mengirimkan pesan kuat: “Aku membutuhkan keahlianmu.”

Apresiasi Spesifik: Ganti ucapan “terima kasih” yang normatif dengan pujian yang mendetail. Katakan, “Terima kasih sudah membantuku memverifikasi data statistik ini, ketelitianmu menyelamatkan kredibilitas tulisan kita.”

Kesimpulan
Manusia secara kodrati adalah entitas yang terus mencari tempat di mana emosi dan keberadaannya divalidasi.

Ungkapan klasik Eleanor Roosevelt menegaskan bahwa ikatan terdalam tercipta karena adanya ruang saling membutuhkan.

Baik secara biologis, psikologis, maupun motivasi, kebutuhan hakiki untuk merasa dibutuhkan adalah kompas abadi yang menggerakkan peradaban umat manusia keluar dari jurang kesepian modern.**”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *