Oleh: Wahyudi El Panggabean
Psikoterapis kenamaan dunia, Wayne Dyer memberi ultimatum kepada kaum penunda:
“Lakukan sekarang, masa depan tidak dijanjikan kepada siapa pun”.
Ungkapan ini, merupakan salah satu cambuk motivasi paling esensial dalam kehidupan. Kalimatnya, menyentuh inti dari eksistensi manusia: kesadaran akan kefanaan waktu dan pentingnya memanfaatkan detik ini dengan tindakan nyata.
Dalam ranah motivasi, ungkapan ini menjadi antitesis dari penyakit mental yang paling merusak: penundaan (prokrastinasi).
Manusia sering kali terjebak dalam perangkap ilusi waktu, mengira bahwa esok atau lusa selalu ada kesempatan kedua.
Padahal, penundaan adalah pembunuh potensi terbesar. Ketika seseorang menunda eksekusi ide atau pekerjaannya, mereka sedang membiarkan momentum emas berlalu.
Kata-kata Dyer mendorong kita untuk memiliki pola pikir action-oriented. Keberanian untuk melangkah hari ini adalah satu-satunya jaminan bahwa kita telah melakukan yang terbaik, lepas dari bagaimana hasil akhirnya nanti.
Bagi seorang jurnalis, prinsip “lakukan sekarang” bukan sekadar motivasi, melainkan nyawa dari profesi itu sendiri. Dunia jurnalistik berkejaran dengan waktu dan kebaruan informasi.
Jurnalis yang menunda peliputan atau investigasi berisiko kehilangan fakta di lapangan karena narasumber yang menghilang, barang bukti yang lenyap, atau momentum peristiwa yang sudah berubah.
Secara psikologis, dorongan untuk bertindak segera (urgensi) melatih insting investigasi yang tajam dan keberanian moral untuk mengungkap kebenaran.
Menunda-nunda menjalani proses peliputan berita berarti membiarkan kebohongan merajalela. Dalam konteks ini, ungkapan Dyer bertransformasi menjadi kode etik profesi. Menuntut ketegasan sikap untuk tidak menoleransi penundaan dalam menyuarakan kebenaran publik.
Dalam ajaran Islam, konsep “kerjakan sekarang” sangat sejalan dengan perintah fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 21, agar manusia bersegera menuju ampunan Tuhan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.Ayat ini secara tegas melarang penundaan dalam melakukan amal saleh.
Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya inisiatif segera sebelum datangnya masa-masa sulit atau penyesalan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Bersegeralah kalian melakukan amal (kebaikan) sebelum datangnya fitnah (ujian) yang datang bagaikan malam yang gelap gulita…” (HR. Muslim).
Islam memandang waktu sebagai amanah yang sangat berharga. Setiap detiknya adalah kesempatan untuk menebar manfaat yang tidak boleh disia-siakan dengan penundaan.
Lantas, ungkapan: “lakukan sekarang, masa depan tidak dijanjikan kepada siapa pun” melompati batas-batas sekadar motivasi pengembangan diri.
Dari sudut pandang psikologis, ini adalah kunci untuk keluar dari zona nyaman dan mengatasi kecemasan akan masa depan.
Dari sisi jurnalistik, ini adalah alarm moral untuk bertindak cepat dan akurat.
Sedangkan dari kacamata Al-Qur’an dan Hadits, ini adalah panggilan ilahi untuk memaksimalkan ibadah dan kebaikan di dunia yang fana ini.
Masa depan adalah milik mereka yang berani mengambil tindakan hari ini.***













