Example 728x250
Ragam

Menembus Ilusi Panggung Disrupsi: Antara Candu Validasi dan Kedamaian Kesendirian

43
×

Menembus Ilusi Panggung Disrupsi: Antara Candu Validasi dan Kedamaian Kesendirian

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Manusia yang lemah ditemukan dalam kerumunan. Ia sibuk mencari validasi dan pengakuan. Manusia yang ditemukan dalam kesendirian, ia fokus mencari kedamaian hati dan meningkatkan pengetahuan.”

Ungkapan tersebut terasa menampar ambisi banyak orang di era disrupsi ini. Kala media sosial (medsos) dipenuhi aktivitas flexing, pamer, dan memburu pengakuan, banyak individu terjebak dalam ilusi kesuksesan semu.

Kita seakan berlomba menjadi “manusia kerumunan” yang rapuh, yang harga dirinya ditentukan oleh jumlah tombol like dan komentar.

Secara psikologis, fenomena ini berkaitan erat dengan need for validation (kebutuhan akan pengakuan).

Pakar psikologi menyebut bahwa ketergantungan pada impresi publik memicu kecemasan dan membuat seseorang kehilangan jati diri autentik.

Individu yang sibuk menampilkan kehidupan yang sempurna sering kali mengalami kekosongan batin yang mendalam, karena kebahagiaannya disandarkan pada penilaian orang lain, bukan pada kapasitas penerimaan diri sendiri (self-acceptance).

Dari kacamata biologis, mengejar validasi di ranah digital adalah bentuk pembajakan sistem saraf otak. Setiap notifikasi atau pujian di medsos memicu pelepasan dopamin (hormon kebahagiaan) secara instan namun singkat.

Respon biologis ini menciptakan siklus adiktif yang memaksa seseorang untuk terus memproduksi konten pamer demi mendapatkan “dosis” dopamin berikutnya.

Otak terkondisikan untuk bekerja keras memenuhi ekspektasi artifisial, yang pada akhirnya memicu kelelahan mental yang akut.

Bagaimana Islam memandang hal ini? Nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis dengan tegas menuntun umatnya untuk menjaga keikhlasan dan menjauhi sifat riya (pamer).

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 264, Allah SWT memperingatkan agar tidak membatalkan pahala sedekah atau amal dengan perbuatan yang menyakiti atau riya.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda bahwa salah satu hal yang paling ditakutkan beliau menimpa umatnya adalah syirik kecil, yakni riya (HR. Ahmad).

Islam mengajarkan umatnya untuk fokus pada kualitas ibadah dan amal kebaikan secara diam-diam (khufiyah), yang akan mengantarkan pada ketenangan jiwa yang hakiki (ithmi’nanul qulub).

Jalan keluar dari ilusi ini adalah kesendirian yang berkualitas atau uzlah/khalwat yang konstruktif. Berbeda dengan kesepian yang menyiksa (loneliness), kesendirian yang disengaja (solitude) memberikan ruang untuk refleksi diri, memupuk spiritualitas, dan meningkatkan literasi.

Di titik inilah keheningan bertransformasi menjadi kekuatan untuk menggali potensi diri secara mendalam.

Lantas, di mana letak peran jurnalis investigasi dalam membongkar masalah ini? Media memiliki tanggung jawab moral untuk mengedukasi publik.

Jurnalis investigasi memegang peran penting sebagai agen perubahan dengan cara membongkar realitas di balik “sukses ilusi” para kreator konten.

Investigasi mendalam terhadap kepalsuan gaya hidup (seperti penipuan berkedok kekayaan atau flexing palsu) akan menyadarkan masyarakat.

Selain itu, jurnalis perlu konsisten mengarusutamakan narasi alternatif yang menginspirasi, meliput kisah-kisah orang yang sukses melalui proses dan kerja keras, bukan dari pencitraan instan.

Dengan mengungkap kebenaran dan menyajikan investigasi yang tajam, pers dapat menjadi katalis yang menyadarkan masyarakat dari candu validasi semu.

Kesimpulannya, era disrupsi menuntut kita untuk berani melangkah keluar dari riuhnya panggung pencitraan dan kembali merengkuh kesendirian yang produktif demi menjaga kewarasan mental dan spiritual.

Jurnalisme investigasi harus terus hadir menjadi penyingkap tabir palsu dari sukses ilusi yang menjebak masyarakat dalam kubangan riya dan kepalsuan.

Dengan kembali pada ketulusan proses, kita dapat menyelaraskan hidup dengan tuntunan Allah SWT dalam Surah Al-Kahfi ayat 46:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Oleh karena itu, mari hentikan perburuan validasi semu di mata manusia dan mulailah mengejar kedamaian sejati yang berakar pada ilmu serta rida-Nya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *