Example 728x250
Pendidikan

Dilema Reuni Usia 60 Tahun: Antara Menjaga Silaturahmi atau Kedamaian Batin?

47
×

Dilema Reuni Usia 60 Tahun: Antara Menjaga Silaturahmi atau Kedamaian Batin?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Di usia senja, undangan reuni acapkali memicu dilema emosional. Berdasarkan analisis holistik dari aspek psikologis, biologis, serta pandangan Islam, keengganan menghadiri reuni pada usia 60 tahun sangatlah alamiah. Penolakan ini bukanlah tanda pudarnya silaturahmi, melainkan mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kedamaian batin dan spiritualitas.

Dari sudut pandang psikologis, reuni kerap membangkitkan Ego State masa lalu yang terkadang bertolak belakang dengan realitas fisik saat ini. Bagi sebagian orang, reuni dikhawatirkan menjadi ajang pamer pencapaian material yang memicu kecemasan sosial, rasa rendah diri, atau bahkan kenangan akan perundungan di masa muda. Psikolog menjelaskan bahwa masa lansia adalah fase di mana seseorang lebih menghargai keintiman emosional yang selektif daripada basa-basi sosial. Kelelahan mental akibat keriuhan dan interaksi berlebihan juga menjadi momok yang dihindari para senior.

Secara biologis, lansia berusia 60 tahun mengalami penurunan energi fisik dan fungsi kognitif yang memproses stimulus baru lebih lambat. Otak dan sistem saraf mereka mudah lelah (mental fatigue) ketika harus berada di lingkungan bising dalam waktu lama. Menghadiri reuni dalam kondisi fisik yang rentan justru seringkali memicu stres dan menguras energi vital yang seharusnya dialokasikan untuk istirahat serta pemulihan kesehatan.

Dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadis, Islam sangat menganjurkan silaturahmi. Namun, Islam juga menetapkan batasan agar perjumpaan manusia membawa maslahat, bukan mudarat. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadis (Sunan At-Tirmidzi no. 2517):

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.”

Bagi muslim usia 60 tahun, prioritas waktu lebih banyak diorientasikan pada ibadah dan muhasabah, mengingat usia tersebut adalah “masa peringatan” sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Fathir ayat 37:

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?”

Dalam meninjau budaya sekolah, prinsip keadilan dan persaudaraan (al-‘adl dan al-musawah) harus dijunjung tinggi. Reuni yang berpotensi menimbulkan kesenjangan sosial atau pamer duniawi (riya) tentu mengurangi esensi silaturahmi itu sendiri.

Kesimpulannya, absennya seseorang dari reuni sekolah di usia 60 tahun adalah pilihan rasional. Hal ini merupakan perwujudan ikhtiar biologis untuk menjaga kesehatan, kebutuhan psikologis akan ketenangan, serta bentuk ketaatan spiritual dalam memaknai sisa usia di dunia.*”*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *