Example 728x250
Hukum & Kriminal

Iran akan Tutup Bab al Mandeb

17
×

Iran akan Tutup Bab al Mandeb

Sebarkan artikel ini
  • Kartu As Baru Iran setelah Selat Hormuz, Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb

Pemerintah Iran dilaporkan tengah berdiskusi dengan kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb. Jalur ini merupakan urat nadi pelayaran vital menuju Terusan Suez.

Kabar ini mencuat melalui laporan kantor berita semi-pemerintah Iran, Tasnim. Langkah tersebut berisiko memutus akses kontainer dari Asia menuju Eropa.

“Kami sedang merancang rencana penutupan Bab al-Mandeb bersama Ansarullah (Houthi),” ujar pemimpin agama Iran, Hojjatoleslam Mohammad Javad Haj Ali Akbari, dalam khotbah Jumatnya dikutip Mirror.

Ancaman ini muncul di tengah negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz yang masih berlangsung. Iran tampaknya menggunakan jalur Laut Merah sebagai kartu as baru dalam diplomasi mereka.

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, memperingatkan AS agar tidak membuat “kesalahan konyol”. Ia menegaskan bahwa aliran energi global bisa kacau hanya dengan satu gerakan. Kondisi semakin panas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan membom infrastruktur penting Iran.

Dampak Ekonomi: Mengapa Bab al-Mandeb Begitu Penting?

Selat ini hanya memiliki lebar 29 km di titik tersempitnya. Lokasi strategis tersebut memungkinkan Houthi mengontrol penuh lalu lintas kapal yang melintas di sana.

Jika Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz ditutup sekaligus, 25 persen pasokan energi dunia akan terblokir. Hal ini diprediksi akan memicu krisis energi dan inflasi besar-besaran.

Bab al-Mandeb terletak di mulut Laut Merah dan merupakan akses utama menuju Terusan Suez. Sekitar 10% perdagangan global melintasi selat ini, termasuk kontainer dari Tiongkok dan India menuju Eropa.

“Ini adalah skenario mimpi buruk. Perdagangan menuju Eropa tidak hanya terganggu, tetapi bisa lumpuh total,” ungkap Elisabeth Kendall, pakar Timur Tengah dari Universitas Cambridge kepada Aljazeera.

Houthi sebelumnya terbukti mampu memblokade jalur ini dengan serangan rudal dan drone. Mantan diplomat AS, Nabeel Khoury, menilai Houthi hanya perlu menyerang beberapa kapal untuk menghentikan pelayaran komersial.

Namun, langkah tersebut dianggap sebagai “garis merah” bagi dunia internasional. Aksi blokade total dipastikan akan memicu serangan balasan skala besar dari AS dan Israel terhadap Yaman. (ron)pontianakpos.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *